Tidak Terima Study Tour Disebut Memberatkan, Ini Tanggapan Pelaku Pariwisata
Para pelaku pariwisata melakukan aksi demo di Gedung Sate, Bandung, Senin 21 Juli 2025. Mereka menuntut Gubernur Jawa Barat mencabut larangan study tour.-Tangkapan Layar-Youtube
BANDUNG, RADARCIREBON.COM - Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang larangan study tour, salah satunya dipicu karena biaya yang dianggap memberatkan orang tua siswa.
Namun anggapan tersebut tidak bisa diterima oleh para pelaku usaha pariwisata yang tengah melakukan aksi demo di Gedung Sate, Bandung, Senin 21 Juli 2025.
Nana Yohana, salah satu perwakilan dari Gabungan Pengusaha Industri Tour & Travel (GAPITT) Ciayumajakuning, menepis anggapan tersebut.
Menurut Nana, kegiatan study tour yang dilakukan oleh pihak sekolah, bukan merupakan program dadakan, melainkan sudah direncanakan jauh-jauh hari.
BACA JUGA:Pelaku Pariwisata: Gara-gara Kebijakan KDM, Bank Emok Jadi Subur
BACA JUGA:Cuaca Ekstrem: Angin Bediding Hantam Cirebon, Awas Penyakit Ini Menyerang
Dengan begitu, segala biaya yang harus dipersiapkan oleh orang tua siswa untuk kegiatan study tour, bisa dicicil atau ditabung sehingga lebih ringan.
"Nah kalau KDM selalu bicara bahwa tadi (biaya study tour) itu memberatkan, memberatkannya di mana?" tanya Nana di hadapan wartawan saat aksi demo di Gedung Sate, Senin 21 Juli 2025.
Nana yang juga Wakil Ketua GAPITT Ciayumajakuning menambahkan, biaya study tour bukan harga mati yang harus dibayarkan mutlak oleh orang tua siswa.
Dijelaskan Nana, bagi siswa dari keluarga kurang mampu, bisa dicarikan solusi agar mereka tetap bisa mengikuti kegiatan study tour namun tidak terbebani oleh biaya yang dianggap memberatkan tersebut.
BACA JUGA:Klaim Lewat Video Call, Transformasi Layanan Garda Oto Mempermudah Warga Ciayumajakuning
BACA JUGA:Desa Setu Kulon Peringkat 5 Terburuk Nasional dalam Penyerapan Dana Desa
Salah satunya, sambung Nana, dengan cara dilakukan subsidi silang atau diberlakukan kebijakan dari pihak biro perjalanan.
"Dan bila mana ada yang tidak mampu, bisa kita ada solusinya. Bisa subsidi silang, atau bisa digratiskan. Tidak masalah bagi kita," tegas Nana.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


