Pasca Ditinggal Ayah, Remaja Ini Putus Sekolah Demi Menghidupi Sang Ibu
Aep Saepudin (14), pemuda asal Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, memilih putus sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga. -Andre Mahardika-RADARCIREBON.COM
KUNINGAN, RADARCIREBON.COM - Mengejar cita-cita setinggi langit mungkin terdengar tabu bagi Aep Saepudin (14), yang lebih memilih putus sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga.
Pasca ditinggal sang ayah untuk selamanya, kehidupan Aep bersama ibunda tercinta, Ita Rosita terus mengalami kesulitan.
Selain bertahun-tahun hidup tanpa penerangan, tempat tinggalnya di Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, terlihat jauh dari kata sehat menyehatkan.
Lebih dari itu, kondisi Sang Ibu yang terkendala kelancaran berkomunikasi, membuat Aep dituntut menjadi tulang punggung keluarga.
BACA JUGA:Kisah Pilu Ibu dan Anak Asal Kuningan yang Hidup dalam Keterbatasan
"Seperti ini sudah 2 tahun, listrik dicabut karena tidak bayar. Saya kerja serabutan pasang baja ringan kadang dapet 200,” ucapnya kaku.
"Untuk makan beli kalau ga ada nyari," imbuhnya.
Pasca putus sekolah, Aep justru lebih memilih mencari apa yang bisa dikerjakan ketimbang melanjutkan sekolah.
Sayangnya, keterbatasan kemampuan dan usianya yang masih belia, hanya segelintir pihak yang mau mempekerjakan Aep dan memberikannya upah.
”Saya putus sekolah kalau ada yang bantu buat sekolah lagi saya ga mau karena saya mau kerja aja bantu orang tua," ucap Aep.
Disinggu g mengenai harapan kedepannya, Aep justru mememberikan respon diluar dugaan. Berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang terbata bata, Aep dengan tegas bahwa ia menginginkan Pemerintah memberikan bantuan Beras.
"Harapan saya ke pemerintah gatau. Oh ngasih beras,” jawabnya.
Sementara itu terpisah, sesepuh desa setempat yang juga tetangga Ita dan Aeo, Roy membenarkan bahwa kondisi kehidupan mereka sudah berlangsung berthaun tahun.
"Ya kondisinya parah sekali Pak, apalagi klau hujan, takut ambruk, kan ada orang, khawatir roboh, ada korban, listrik mati, dicabut, ya jangankan untuk bayar listrik, untuk makan pun ga ada,” ungkapnya.
"Kesehariannya ya kemana kadang kadang, ya Alhamdulillah dari Masyarakat juga banyak simpatisan lah,” imbuhnya.
Disinggung mengenai bantuan daripada program pemerintah, Roy menjelaskan pernah ada bantuan berupa beras dan mie instan sekitar enam bulan lalu.
”Pernah sih ada bantuan dari Camat Luragung, Baznas, mungkin dari Bupati Kuningan juga pernah kasih beras sama indomie lah, pernah, udah ada enam bulan lah,” ucapnya.
BACA JUGA:Saung Kakek Sebatang Kara Ludes Terbakar, Suryadi Bingung Pulang Kemana
"Makan nya dari tetangga, kalau PKH saya rasa belum, pernah sekali bantuan apa udah lama, setahun lebih,” Roy menambakan.
Sedangkan untuk upaya tetangga, Roy menjelaskan pihaknya telah tiga kali mencoba pengajuan namun tidak membuahkan hasil.
"Saya juga bingung minta bantuan kemana, udah sering pengajuan, tapi mungkin karena anggarannya belum ada, mungkin dipending aja dulu, udah tiga kali ngajuin tapi belum terealisasi,” jelas Roy.
Dirinya berharap, adanya bantuan berkelanjutan dari pihak desa, kecamatan hingga kabupaten untuk memperhatikan tetangganya tersebut.
”Harapan saya, mudah mudahan kedepannya, baik desa maupun kecamatan dan kabupaten Kuningan, saya minta diberikan fasilitas yang kira kira buat tidur, buat apa,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

