Daya Motor

DP3AKB Jabar Fokus Pemulihan Psikologis Warga Pascabencana Longsor di KBB

DP3AKB Jabar Fokus Pemulihan Psikologis Warga Pascabencana Longsor di KBB

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat memberikan Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal kepada warga terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, -Biro Adpim Jabar-

BANDUNG, RADARCIREBON.COM – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat memberikan Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal kepada warga terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pendampingan ini dilakukan sebagai respons atas kondisi psikologis para penyintas yang masih diliputi kebingungan dan kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, harta benda, hingga mata pencaharian. 

Situasi tersebut dinilai sebagai reaksi wajar pascabencana, namun tetap membutuhkan penanganan yang tepat agar tidak berkembang menjadi gangguan psikologis berkepanjangan.

BACA JUGA:Evakuasi Longsor Bandung Barat Dikebut, BMKG Lakukan OMC Hingga Tiga Kali Sehari

BACA JUGA:KSAL Muhammad Ali: Anak Prajurit Marinir Gugur Longsor Dijamin Sekolah dan Kesempatan Masuk TNI

Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti menjelaskan sebagian besar warga terdampak mengalami respons stres normal, bukan trauma berat atau gangguan mental. 

Meski demikian, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian serius melalui pendampingan psikososial yang terstruktur dan berkelanjutan.

“Sebagian besar warga menunjukkan respons stres yang wajar akibat bencana. Ini bukan gangguan atau trauma, tetapi tetap harus didampingi agar mereka bisa pulih dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Siska di Kota Bandung, Kamis 29 Januari 2026, kemarin.

Sebagai bentuk pemulihan awal, DP3AKB Jabar memberikan dukungan psikologis awal (PFA) dengan pendekatan empatik. 

Pendamping hadir langsung di lokasi pengungsian untuk mendengarkan keluhan warga, mengamati kondisi psikologis, memastikan rasa aman, serta membantu menghubungkan penyintas dengan berbagai sumber bantuan.

Pendampingan tersebut difokuskan terutama kepada kelompok rentan, seperti perempuan dan anak-anak, yang cenderung memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap tekanan psikologis pascabencana.

“Kami hadir untuk mendengarkan, memastikan mereka merasa aman, serta membantu memenuhi kebutuhan dasar, khususnya bagi ibu dan anak."

BACA JUGA:Korban Longsor Pasirlangu Bandung Barat Bertambah, 53 Jenazah Ditemukan dan 27 Orang Masih Dicari

"Harapannya, mereka bisa kembali percaya diri dan kuat menghadapi situasi sulit ini,” kata Siska.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase