Daya Motor

Traktor Roda Empat Dorong Mekanisasi Pertanian di Cirebon

Traktor Roda Empat Dorong Mekanisasi Pertanian di Cirebon

Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Jawa Barat Satpel Plumbon meluncurkan traktor roda empat di Desa Kertasari Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon untuk pengolahan lahan pertanian, Senin (10/2/2026).-Khoirul Anwarudin-radarcirebon

CIREBON, RADARCIREBON.COM - Kondisi pertanian di Kabupaten Cirebon terus menghadapi tantangan, terutama pada tahap pengolahan lahan pasca panen.

Peralihan metode panen dari tenaga manual ke mesin combine harvester memang membuat pekerjaan petani lebih praktis dan efisien, namun di sisi lain berdampak pada kondisi tanah yang menjadi lebih keras dan sulit diolah kembali.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Provinsi Jawa Barat melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Plumbon meluncurkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda empat di Desa Kertasari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Senin (9/2/2025).

Traktor tersebut digunakan untuk mengolah lahan pertanian seluas 7,5 hektare yang akan kembali ditanami padi.

BACA JUGA:Resital Seni SMPN 11: Panggung Budaya, Bazar Kreativitas

Petani penggarap lahan, Surya, menuturkan bahwa lahan tersebut sebelumnya mengalami beberapa kali perubahan komoditas. Awalnya ditanami padi, kemudian beralih menjadi lahan tebu selama sekitar 10 tahun, dan dalam beberapa tahun terakhir ditanami singkong.

“Sekarang rencananya mau ditanami padi lagi, jadi lahannya memang harus diolah ulang dari awal karena kondisinya cukup keras,” ungkap Surya.

Dengan luas lahan yang cukup besar, Surya mengakui pengolahan secara manual akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, kehadiran traktor roda empat dinilai sangat membantu dan lebih efisien.

Kepala Satpel Plumbon Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian Provinsi Jawa Barat, Yayat Supriatna, menjelaskan bahwa traktor roda empat pada prinsipnya memiliki fungsi yang sama dengan traktor roda dua atau hand traktor, yakni untuk pengolahan lahan. Namun, perbedaannya terletak pada kemampuan kerja di kondisi tanah tertentu.

BACA JUGA:Puasa Ramadan bagi Penderita GERD, Ini Fakta Medis yang Wajib Diketahui

“Traktor roda dua itu cocok untuk lahan yang gembur atau mudah terurai. Kalau traktor roda empat ini lebih efektif untuk lahan yang keras, biasanya setelah panen menggunakan combine, karena bobot combine cukup berat dan membuat tanah menjadi padat,” jelasnya.

Menurut Yayat, penggunaan traktor roda empat diharapkan dapat mengatasi kendala pengolahan lahan pasca panen dan mempermudah pekerjaan petani. Dari sisi kapasitas, alat tersebut secara teoritis mampu mengolah lahan hingga 4–5 hektare per hari, namun pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi lapangan.

“Kami realistis saja. Untuk kondisi seperti ini, targetnya sekitar 2 sampai 3 hektare per hari. Itu juga agar mesinnya tidak dipaksakan dan bisa beroperasi optimal,” ujarnya.

Terkait sistem pemanfaatan, Yayat menyebut alsintan tersebut digunakan dengan skema pinjam pakai melalui kelompok tani. Satpel hanya meminjamkan alat, sementara kebutuhan operasional seperti bahan bakar, operator, dan perawatan menjadi tanggung jawab peminjam.

BACA JUGA:'Sarjana' Ultra 600 Km

“Setelah selesai digunakan, alat akan dikembalikan lagi ke Satpel. Ini sistemnya pinjam pakai,” katanya.

Lebih jauh, Yayat menilai mekanisasi pertanian di Cirebon memiliki prospek yang baik. Hampir seluruh proses panen kini telah menggunakan mesin combine harvester karena dinilai lebih praktis, mudah, dan hemat biaya. Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan dukungan alat pengolahan lahan yang sesuai.

“Setelah pakai combine, petani sering kesulitan saat mengolah lahan kembali. Maka kami dorong dengan menurunkan alat-alat seperti rotavator dan traktor roda empat, disesuaikan dengan situasi dan kondisi lahannya,” pungkasnya. (awr)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: