Sembahyang Be Gwee Sambut Perayaan Imlek di Klenteng Hok Keng Tong
JELANG IMLEK : Klenteng Hok Keng Tong di Weru Kidul, melaksanakan sembahyang Be Gwee sebagai persiapan untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Konzili pada Rabu (11/2/2025).-Khoirul Anwarudin-radarcirebon
RADARCIREBON.COM - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, Klenteng Hok Keng Tong atau Vihara Dharma Sukha yang berada di Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, mulai menggelar rangkaian persiapan ritual keagamaan. Salah satu ritual awal yang dilaksanakan adalah upacara Be Gwe, yang digelar pada Rabu (11/2/2025), atau sekitar sepekan sebelum Imlek.
Ketua Yayasan Vihara Dharma Sukha, Kusnadi Halim, menjelaskan bahwa Be Gwee merupakan ritual persembahyangan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada para dewa, khususnya Dewa Hok Tek Ceng Sin yang bersemayam di altar klenteng.
“Intinya Be Gwee adalah ucapan terima kasih. Selama setahun kami diberi kesehatan, rezeki, kelancaran usaha, meski tentu banyak kendala yang dihadapi,” ujar Kusnadi.
Selain sebagai ungkapan syukur, ritual Be Gwee juga diyakini sebagai momen menghantarkan para dewa naik ke langit untuk menyampaikan laporan kepada Kaisar Langit terkait perilaku dan kehidupan umat manusia selama setahun terakhir. Oleh karena itu, persembahan yang disajikan didominasi oleh makanan manis.
BACA JUGA:Evaluasi Bojan Hodak, Bongkar Penyebab Kekalahan Persib 0-3 dari Ratchaburi
“Kita kasih persembahan yang manis-manis, seperti dodol, permen, dan manisan lain. Harapannya dewa juga menyampaikan laporan yang manis-manis tentang umatnya,” jelasnya.
Dalam rangkaian Be Gwe, terdapat pula tradisi Cap Jie Gwee Ji Si, yang menandai dimulainya masa persiapan Imlek. Setelah diyakini para dewa meninggalkan altar, pihak klenteng melakukan pembersihan besar-besaran.
“Mulai dari bersih-bersih patung, altar, sampai mengecat ulang tembok yang sudah kusam. Karena dipercaya di masa ini altar dalam keadaan kosong, jadi ini waktu yang tepat untuk bersih total,” kata Kusnadi.
Setelah seluruh persiapan selesai, umat akan melaksanakan sembahyang malam Tahun Baru Imlek atau malam Ce It. Tahun ini, Imlek memasuki tahun 2577 Kongzili yang dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Kongzi (Konghucu).
BACA JUGA:Prediksi Awal Ramadan 1447 H 19 Februari 2026, Begini Perkiraan Posisi Hilal
Kusnadi menyebutkan, pada hari pertama Imlek, klenteng biasanya relatif sepi karena umat lebih banyak berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, dan mengunjungi orang tua. Aktivitas di klenteng kembali ramai pada hari keempat Imlek, saat dilaksanakan ritual penyambutan turunnya kembali para dewa ke altar.
“Di tanggal 4 itu, klenteng sudah bersih, lampion terpasang, semuanya rapi. Dewa dipersilakan kembali duduk di altar,” ungkapnya.
Rangkaian perayaan Imlek ditutup dengan sembahyang Tikong pada malam tanggal 8 menuju 9 Imlek, tepat pukul 00.00. Dalam ritual ini, tebu menjadi perlengkapan wajib yang diletakkan di sisi kiri dan kanan altar.
“Tebu itu simbol perlindungan. Ada sejarahnya dari Tiongkok, saat orang-orang bersembunyi di kebun tebu untuk menghindari kejaran penguasa atau perampok dan selamat. Itu yang dipercaya sampai sekarang,” pungkasnya. (awr)
BACA JUGA:Victor Font Serang Laporta, Targetkan Messi dan Haaland untuk Era Baru Barcelona
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

