Daya Motor

Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Jelang Puasa, Ini Tradisi Uniknya

Makam Sunan Gunung Jati Dipadati Peziarah Jelang Puasa, Ini Tradisi Uniknya

Juru kunci kompleks makam Sunan Gunung Jati, Nasirudin, Senin 16 Februari 2026.-DEDI HARYADI-RADARCIREBON.COM

CIREBON, RADARCIREBON.COM - Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, kompleks Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dipadati ribuan peziarah.

Lonjakan pengunjung terlihat signifikan dalam beberapa hari terakhir, terutama saat akhir pekan dan momentum cuti bersama.

Kawasan religi yang menjadi salah satu ikon wisata spiritual di Cirebon ini tampak lebih ramai dibanding hari biasa.

Peziarah datang silih berganti, tidak hanya dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Mereka memanfaatkan momen menjelang Ramadan untuk berziarah dan memanjatkan doa.

BACA JUGA:Viral Pemandu Ziarah Sebut Puser Bumi Tembus ke Makkah, Juru Kunci Makam Sunan Gunung Jati Buka Suara

BACA JUGA:RCTV Gelar Genjring Ramadan 2026, Diikuti 20 Grup dari Wilayah 3 Cirebon

Juru kunci kompleks makam, Nasirudin mengatakan, peningkatan jumlah peziarah menjelang Ramadan merupakan tradisi tahunan yang terus berlangsung.

Menurutnya, secara historis Sunan Gunung Jati yang dikenal sebagai salah satu anggota Wali Songo, lahir sekitar tahun 1438. Hingga kini, makamnya tetap menjadi pusat ziarah yang tak pernah sepi pengunjung.

“Memang setiap menjelang puasa selalu ramai. Apalagi kalau bertepatan dengan Sabtu, Minggu, dan cuti bersama, jumlah pengunjung meningkat cukup tajam. Kemungkinan sampai Rabu masih ramai, karena Kamis sudah masuk tahapan bulan puasa,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.

Nasirudin memperkirakan, memasuki awal Ramadan jumlah peziarah akan mulai berkurang. Meski begitu, kunjungan tetap ada, khususnya dari keluarga yang hendak berziarah ke makam leluhur di kompleks tersebut.

Berdasarkan catatan buku tamu, angka kunjungan menunjukkan peningkatan signifikan dibanding hari biasa.

Para peziarah tidak hanya berdoa di makam utama Sunan Gunung Jati, tetapi juga menyambangi makam keluarga dan kerabat yang berada di area kompleks.

Salah satu tradisi yang masih dijalankan adalah mandi di tujuh sumur yang berada di kawasan makam. Tradisi ini dipercaya memiliki nilai spiritual dan menjadi bagian dari rangkaian ziarah.

BACA JUGA:Pastikan Kawasan Makam Sunan Gunung Jati Tertib dari Pengemis, Forkopimda Cirebon Turun Langsung

“Mereka datang untuk mendoakan leluhur, mengingat kematian, dan mencari ketenangan hati. Selain disunnahkan, ziarah juga menjadi pengingat bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta,” jelas Nasirudin.

Aktivitas peziarah berlangsung tertib dengan pengawasan pengelola. Petugas juga mengimbau pengunjung menjaga kebersihan dan ketertiban selama berada di kawasan makam.

Tak hanya ziarah, berbagai tradisi khas Ramadan di lingkungan makam tetap dilestarikan masyarakat setempat.

Tradisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang memperkuat nilai budaya dan spiritual kawasan ini.

Beberapa agenda yang rutin digelar antara lain nasi panjang, bakti sosial, hingga pembuatan ketan yang telah menjadi tradisi turun-temurun warga sekitar.

Puncak rangkaian tradisi berlangsung pada 20 Ramadan yang dikenal dengan istilah “Banyu Bareng”. Pada momen ini dilakukan prosesi pembersihan alat dan benda peninggalan Sunan Gunung Jati.

Dua hari sebelumnya, tepat pada 18 Ramadan, pengelola menurunkan “tadah alas” di area makam untuk dicuci.

Selanjutnya, pada 20 Ramadan, tadah alas tersebut dipasang kembali bersamaan dengan pembersihan gamelan serta benda pusaka yang selama ini dijaga kelestariannya.

BACA JUGA:Petugas Tertibkan Pengemis di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Peziarah dari Mojokerto Ikut Senang

“Budaya-budaya seperti ini dari dulu sampai sekarang tetap kita jaga. Harapan kami, Sunan Gunung Jati tetap eksis dan terpelihara,” ungkap Nasirudin.

Lonjakan peziarah menjelang Ramadan menjadi bukti bahwa Makam Sunan Gunung Jati bukan sekadar situs sejarah.

Kawasan ini telah berkembang menjadi pusat spiritual dan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.

Dengan meningkatnya kunjungan, pengelola berharap para peziarah tetap menjaga ketertiban dan menghormati nilai-nilai kesakralan tempat tersebut. (rdh)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase

Berita Terkait