Tradisi Beduk 23.00, Penanda Hidupnya Malam Ramadan di Sang Cipta Rasa
Gerbang Masjid Agung Sang Cipta -SENO DWI PRIYANTO-radarcirebon
RADARCIREBON.COM - Pada bulan Ramadan, aktivitas ibadah di Masjid Sang Cipta Rasa biasanya meningkat tajam. Sejak sore hari, jamaah sudah berdatangan dari berbagai penjuru Kota Cirebon hingga daerah sekitar.
Mereka tak hanya menunaikan salat lima waktu.
Banyak pula yang sengaja datang untuk mengikuti pengajian, tadarus Alquran, hingga Salat Tarawih berjamaah di masjid bersejarah tersebut.
Saat malam Ramadan tiba, suasana di dalam masjid terasa lebih hidup. Lantunan ayat suci Alquran terdengar dari berbagai sudut ruangan. Sebagian jemaah duduk bersila sambil membaca mushaf, sementara lainnya berbincang pelan menunggu waktu salat berikutnya.
Salah satu jamaah, Ahmad Fauzi (34), warga Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, mengaku sengaja datang ke Masjid Sang Cipta Rasa untuk merasakan suasana ibadah di masjid bersejarah itu. Menurutnya, beribadah di masjid peninggalan Sunan Gunung Jati memberikan pengalaman spiritual yang berbeda.
BACA JUGA:Tradisi Azan Pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Warisan Spiritual Sejak Abad ke-15
“Kalau salat di sini rasanya lebih khusyuk. Apalagi tadi ikut jumatan di sini dan bisa menyaksikan langsung azan pitu berkumandang, suasananya benar-benar terasa sacral,” ujarnya kepada Radar Cirebon, Jumat (6/3/2026).
Ia mengaku sering datang ke masjid tersebut, terutama pada bulan Ramadan. “Kalau Ramadan biasanya lebih ramai. Banyak orang dari luar kota juga datang untuk tarawih atau sekadar ziarah,” katanya.
Selain ibadah rutin, masyarakat sekitar juga masih menjaga sejumlah tradisi yang telah berlangsung sejak lama. Salah satunya adalah menabuh beduk pada pukul 23.00 WIB setiap malam Ramadan.
Tabuhan beduk itu menggema dari dalam masjid, memecah keheningan malam di kawasan Keraton Kasepuhan. Bagi masyarakat sekitar, bunyi beduk tersebut menjadi tanda untuk kembali menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah.
“Biasanya setelah beduk ditabuh, orang-orang yang masih di rumah mulai datang lagi ke masjid. Ada yang tadarus, ada juga yang sekadar berzikir,” kata seorang jamaah lainnya.
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, keberadaan Masjid Agung Sang Cipta Rasa juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Di area sekitar masjid hingga kawasan Keraton Kasepuhan, banyak warga membuka usaha kecil untuk melayani kebutuhan jemaah dan pengunjung.
Mulai dari warung makan sederhana, penjual minuman, hingga pedagang perlengkapan ibadah seperti sarung, peci, dan tasbih terlihat berjajar di beberapa titik.
Salah seorang pedagang, Juju, mengaku telah berjualan makanan ringan di sekitar masjid selama lebih dari 10 tahun. Menurutnya, setiap Ramadan jumlah pembeli biasanya meningkat dibanding hari biasa. “Kalau Ramadan ramai sekali. Banyak jamaah yang datang untuk tarawih atau sekadar berkunjung ke masjid, jadi dagangan juga lebih laris,” kata ibu rumah tangga 48 tahun tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

