DLH Akui Pengelolaan Sampah di Kabupaten Cirebon Masih Hadapi Banyak Tantangan
baHas saMpaH LaGI: Komisi III DpRD Kabupaten Cirebon bersama baperida, DLH, DpMD, dan DputR membahas persoalan sampah yang tak kunjung tuntas, kemarin.-Samsul Huda-radarcirebon
CIREBON, RADARCIREBON.COM -Persoalan sampah di Kabupaten Cirebon tidak bisa diselesaikan hanya dengan konsep di atas kertas.
Penanganannya membutuhkan sistem pengelolaan yang terintegrasi, dukungan anggaran memadai, serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono ST MSi mengatakan, hingga saat ini pemerintah daerah masih menghadapi berbagai tantangan dalam menata sistem pengelolaan sampah.
Menurutnya, persoalan sampah merupakan masalah kompleks yang tidak dapat diselesaikan secara instan.
Selain membutuhkan perencanaan yang matang, penanganannya juga harus didukung sarana dan prasarana yang memadai.
“Penanganan sampah itu tidak bisa instan. Harus ada sistem yang matang, dukungan fasilitas, dan tentu saja perubahan perilaku masyarakat,” ujar Dede kepada Radar Cirebon usai rapat kerja bersama Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon, Jumat (6/3/2026).
Dede menjelaskan, saat ini pemerintah daerah tengah melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah.
Salah satunya melalui penataan pengelolaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta penerapan sanksi administratif bagi pelanggaran pengelolaan sampah.
Di TPA, kata dia, pengelolaan juga harus memperhatikan aspek lingkungan. Salah satunya dengan memasang instalasi pipa untuk mengendalikan gas agar tidak menimbulkan pencemaran.
“Di TPA harus ada instalasi pipa untuk mengendalikan gas agar tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.
Ia menambahkan, idealnya sampah yang dibuang ke TPA hanyalah sampah residu, yakni sisa sampah yang sudah tidak dapat diolah kembali.
BACA JUGA:Tradisi Beduk 23.00, Penanda Hidupnya Malam Ramadan di Sang Cipta Rasa
“Seharusnya yang dibuang ke TPA itu hanya residu. Sampah yang masih bisa diolah seharusnya diselesaikan di hulu,” katanya.
Dede juga menyinggung konsep pengolahan sampah modern menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Secara teori, teknologi tersebut dinilai cukup efektif untuk mengurangi volume sampah.
Namun, menurutnya, penerapan teknologi tersebut di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.
“Secara teori, satu hektare bisa selesai kalau menggunakan sistem RDF. Tapi di lapangan tidak sesederhana itu,” ujarnya.
Selain teknologi, DLH juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa. Beberapa wilayah bahkan mulai menunjukkan perkembangan positif dalam mengelola sampah secara mandiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

