Bahaya Terjebak dalam Romantisasi Gangguan Mental melalui Self Diagnosis Remaja
Bahaya Terjebak dalam Romantisasi Gangguan Mental melalui Self Diagnosis Remaja-dok-Radar Cirebon
Oleh : Dea Monika
Pernahkah kita membayangkan bahwa rasa sedih serta sakit menjadi tren yang disukai banyak remaja? Saat ini, media sosial sangat berkembang pesat.
Algoritma sering kali menjelma sebagai profesi dalam sekejap. Dalam video berdurasi 15 detik, gejala medis yang kompleks dirangkum dengan sangat mudah sehingga menggiring para remaja yang dalam usia labil melayang arus yang menganggap sebuah gejala medis ada di dalam dirinya.
Sayangnya, beberapa remaja malah meromantisasi hal tersebut sehingga dapat menjauhkan mereka dari fakta pemulihan yang sebenarnya.
Meskipun melek akan kesehatan mental itu penting, meromantisasi gangguan mental bukanlah hal yang baik, apalagi tanpa adanya bimbingan dari seorang ahli, hal itu dapat dikenal dengan Self Diagnosis. Tak sedikit remaja labil yang bangga melabel dirinya dengan gangguan seperti Bipolar, Anxiety, Skizo, dan masalah mental lainnya.
BACA JUGA:Arus Mudik Lokal Diprediksi Membludak H+1 Lebaran, Polisi Siapkan Strategi
Secara global, menurut laporan dari Sapien Labs tahun 2023, sekitar 27% dari 500.000 responden dari 71 negara di seluruh dunia berada dalam kategori "Distressed" atau "Struggling" terkaitkesehatan mental mereka.
Kondisi ini semakin buruk di kalangan remaja dan anak muda, yang cenderung lebih sering melakukan self-diagnosis melalui mereka menemukan informasi secara berani, termasuk media sosial dan aplikasi kesehatan (WHO, 2022).
Menurut Amalia dan Dearly (2024) "Akar masalah dari maraknya self-diagnosis di kalangan remaja bukan hanya sekedar kekurangan informasi, melainkan adanya literasi yang tidak komprehensif.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar individu (69,1%) melakukan diagnosis mandiri tanpa berkonsultasi dengan ahli karena merasa pengetahuan dari media sosial sudah cukup (KNPK Yarsi, 2024).
BACA JUGA:Resmi! Ini Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk FIFA Series 2026
Ironisnya, dukungan emosional dari teman sebaya sering kali justru memperkuat keyakinan yang salah ini; ketika seorang teman berbagi pengalaman medisnya, remaja terkadang melakukan sinkronisasi gejala tanpa filter klinis.
Akibatnya, alih-alih mendapatkan kesembuhan, mereka terjebak dalam labirin cyberchondria—kecemasan akut yang lahir dari informasi internet yang tidak tervalidasi."
Lalu, menurut tulisan (Ditanti & Nisa 2023) yang juga mengutip dari beberapa sumber mengatakan bahwa Akar masalah dari fenomena maraknya self-diagnosis diperlukan pada tingginya ketergantungan Generasi Z terhadap ruang digital, di mana sekitar 20,9% remaja menghabiskan waktu 7 hingga 10 jam per hari di internet (Alvara Research Center).
Intensitas yang tinggi ini menyebabkan terjadinya “normalisasi” dan romantisasi istilah medis yang keliru di media sosial; perasaan sedih biasa dilabeli sebagai “depresi”, dan perubahan suasana hati wajar dianggap sebagai “bipolar”.
BACA JUGA:Arus Mudik Lebaran 2026 di Tol Cipali Melonjak 65,7 Persen, Arah Cirebon Padat Lancar
Hasilnya, muncul gambaran antara kesadaran dan validasi ilmiah. Hal ini terbukti dari data yang menunjukkan bahwa meskipun 64% remaja merasa memiliki masalah kesehatan mental, sebagian besar dari mereka (54%) enggan melakukan validasi ke tenaga profesional.
Pola ini mengindikasikan bahwa self-diagnosis bagi remaja bukan lagi sekedar mencari informasi, melainkan cara instan untuk mencari identitas di balik istilah klinis tanpa dasar medis yang akurat.
Selain faktor penggunaan kepentingan yang intens, terdapat fenomena di mana label gangguan mental digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan validasi.
Di media sosial, rasa sedih atau melankolis seringkali divisualkan dengan hal yang menarik, lagu yang menyayat hati, dan narasi yang puitis sehingga menciptakan getaran bahwa sakit mental merupakan hal yang istimewa.
BACA JUGA:Rayakan Kemenangan dengan Semangat Literasi: Harmoni Lebaran Bersama Penerbit Erlangga
Hal ini menyebabkan gangguan mental tidak lagi dianggap sebagai hal yang serius, tetapi sebagai aksesoris hidup yang dapat membuat remaja merasa berbeda. Akibatnya, alih-alih mencari tahu dan pergi ke psikolog, banyak remaha yang merasa nyaman bertahan dengan identitas mental tersebut karena takut kehilangan identitas istimewa yang dibangun di ruang sosial.
Bahayanya dari tren ini adalah terjadinya misdiagnosis dapat meningkatkan keparahan penyakit dan timbulnya penyakit lain yang tidak dapat dihindari karena penanganan yang tidak tepat. Selain itu, gejala suatu penyakit antar individu juga berbeda-beda sehingga kita tidak boleh membanding gejala penyakit yang kita alami dengan orang lain (Andri, 2023).
Tidak berhenti di situ, kebiasaan self diagnosis akan memunculkan stigma mandiri, alih-alih mencari solusi yang cepat, diri ini menganggap gangguan kesehatan mental pada diri sendiri, sehingga menghambat potensi untuk terus melangkah dan mengganggu produktivitas kehidupan.
Sebagai solusi, remaja perlu menyadari bahwa kesehatan mental bukanlah hal yang dapat dijawab oleh algoritma internet, melainkan kondisi klinis yang memerlukan bantuan profesional. Langkah awal yang paling bijak adalah meningkatkan literasi digital dengan memandang konten kesehatan mental hanya sebagai informasi awal, bukan hasil akhir. Remaja didorong untuk lebih terbuka dalam memanfaatkan layanan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

