Limbah Dapur SPPG di Beringin Diduga Cemari Lingkungan, FORMASI Cirebon Minta Ditindak
Ketua Umum FORMASI Cirebon Qorib Magelung Sakti saat meninjau pembuangan limbah SPPG di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Kamis 2 April 2026.-Dokumen FORMASI Cirebon. -
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan Sada Bina Futura di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, menuai sorotan tajam dari masyarakat.
Program yang semestinya mendukung pemenuhan gizi justru diduga menjadi sumber pencemaran lingkungan.
Keluhan warga bukan sekadar isu ringan. Bau menyengat yang berasal dari limbah dapur disebut telah mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan kesehatan.
BACA JUGA:Pembongkaran Jembatan Bersejarah di Cirebon Picu Kritik Pemerhati Budaya
Ketua Umum FORMASI, Qorib Magelung Sakti, menilai kondisi ini sebagai indikasi adanya kelalaian serius dalam pengelolaan limbah.
“Ini bukan hanya soal bau, tapi tanda bahwa pengelolaan limbah tidak sesuai standar. Jika dibiarkan, bisa menjadi ancaman kesehatan bagi warga,” tegasnya saat dilokasi SPPG, Kamis 2 April 2026.
Menurut Qorib, persoalan yang terus berulang tanpa penanganan maksimal menunjukkan lemahnya komitmen pengelola terhadap aspek lingkungan.
Ia menilai operasional dapur SPPG tidak seharusnya berjalan jika berdampak negatif bagi masyarakat sekitar.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya menyehatkan, bukan malah menciptakan sumber penyakit. Ini jelas ironi,” tambahnya.
BACA JUGA:Resmi! Salam Kulanun–Mangga Jadi Identitas Baru Cirebon di Hari Jadi ke-544
FORMASI Cirebon juga menyoroti dugaan adanya kebocoran pada sistem penampungan limbah.
Kondisi tersebut ditengarai menyebabkan air limbah merembes ke lingkungan warga dan berpotensi mencemari air tanah, termasuk sumur yang menjadi sumber kebutuhan sehari-hari.
Jika hal ini benar terjadi, dampaknya dinilai cukup serius. Risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi saluran pernapasan, hingga gangguan kulit bisa meningkat.
“Jangan tunggu ada korban. Pemerintah harus hadir dan bertindak tegas,” ujar Qorib.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase
