Ngunjung Ki Gede Bakung: Menjaga Akar, Merawat Masa Depan
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat sekaligus tokoh pemuda Desa Bakung Kidul, Bambang Mujiarto ST, turut hadir dalam kegiatan peringatan malam 1 Suro sekaligus Tahun Baru Islam di Situs Ki Gede Surang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon.-Bambang Mujiarto Center-
CIREBON, RADARCIREBON.COM - Malam perlahan turun di Desa Bakung Kidul dan Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon.
Namun gelap malam itu tidak benar-benar menjadi gelap. Ribuan titik cahaya menyala dari obor-obor yang digenggam warga, membentuk lautan api kecil yang bergerak perlahan menuju Situs Ki Gede Surang.
Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka. Para pemuda mengawal barisan. Sesepuh desa melangkah tenang di tengah masyarakat yang larut dalam suasana khidmat.
Tidak ada sekat jabatan, tidak ada perbedaan kedudukan. Semua menyatu dalam satu perjalanan yang sama.
BACA JUGA:Puncak Tradisi Buka Sirap Buyut Trusmi Dipadati Ribuan Warga, 5.000 Porsi Nasi Dibagikan
Bagi masyarakat Bakung, pawai obor malam 1 Suro bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perjalanan kembali kepada akar sejarah, kepada jejak para leluhur yang telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Cahaya obor yang menembus gelap malam seakan menjadi simbol perjalanan manusia itu sendiri. Sebuah perjalanan yang selalu bergerak di antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di sepanjang jalan menuju situs, ribuan langkah kaki itu seperti sedang mengulang pesan yang sama dari generasi ke generasi: manusia boleh berubah mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan akar yang membuatnya tetap berdiri tegak.
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat sekaligus tokoh pemuda Desa Bakung Kidul, Bambang Mujiarto ST, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa tradisi dan kemajuan zaman tidak seharusnya dipertentangkan.
Menurutnya, masyarakat harus mampu menempatkan sejarah sebagai akar kehidupan, sementara masa depan menjadi tujuan yang ingin dicapai bersama.
"Perjalanan masa lalu adalah kompas bagi masa sekarang. Apa yang diwariskan leluhur menjadi pondasi yang membuat kita memahami arah pembangunan hari ini. Kita melihat kembali sejarah sebagai akar, dan melihat masa depan sebagai tujuan," ujar Bambang.
Ia menjelaskan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga warisan budaya sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Dalam pandangannya, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa maupun kalender Hijriah. Lebih dari itu, malam tersebut merupakan momentum perenungan tentang perjalanan hidup manusia.
Hari ini, kata Bambang, suatu saat akan menjadi masa lalu. Besok akan menjadi hari ini. Dan apa yang dilakukan manusia saat ini akan menjadi sejarah yang kelak dikenang oleh anak cucunya.
"Hari ini akan menjadi masa lalu dan besok akan menjadi sekarang. Karena itu apa yang kita lakukan hari ini harus memiliki makna. Sebab sejarah tidak hanya mengukir masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan," katanya.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Bambang menilai budaya dan tradisi tetap memiliki posisi yang sangat penting.
Kemajuan teknologi memang tidak mungkin dihindari. Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan. Namun budaya dan tradisi menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.
"Manusia dikenal karena budaya dan tradisinya. Dari sanalah lahir karakter, nilai, dan identitas. Teknologi boleh berkembang, dunia boleh berubah, tetapi budaya menjadi ruh yang menjaga kemanusiaan kita," tuturnya.
Bagi Bambang, salah satu pekerjaan besar yang harus dilakukan masyarakat hari ini adalah meluruskan berbagai cara pandang yang dapat memecah belah persaudaraan.
Ia menegaskan bahwa syiar Islam sejatinya hadir untuk menghadirkan kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan umat, bukan untuk melahirkan konflik dan permusuhan.
"Islam tidak mengajarkan saling membunuh. Islam mengajarkan persaudaraan, kemanusiaan, dan kasih sayang. Karena itu kita harus terus menjaga ruang-ruang kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Cirebon," ujarnya.
Dalam konteks budaya Cirebon, Bambang melihat bahwa keberagaman pandangan, tradisi, dan ekspresi budaya merupakan kekayaan yang harus dirawat.
Perbedaan yang ada bukan alasan untuk berpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Malam itu, ribuan warga yang berkumpul di satu tempat menjadi simbol nyata bahwa masyarakat Cirebon mampu berdiri bersama dalam satu semangat yang sama.
BACA JUGA:Bambang Mujiarto Desak Perombakan Total Manajemen PDAM Tirta Jati
"Kita boleh memiliki pandangan budaya yang berbeda, cara yang berbeda, bahkan pemahaman yang berbeda. Tetapi semuanya masih berada dalam kerangka besar Cirebon. Kita tetap satu keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan masa depan yang lebih baik," katanya.
Menurut Bambang, peringatan Tahun Baru Islam dan malam 1 Suro harus dipahami sebagai momentum untuk menyatukan kembali semangat kebersamaan masyarakat.
Bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur.
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengingatkan kembali pesan besar yang diwariskan oleh leluhur Cirebon, khususnya Sunan Gunung Jati.
Salah satu ajaran yang terus hidup hingga hari ini adalah pesan "Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin."
Menurutnya, pesan tersebut sering kali hanya dipahami secara sederhana sebagai perintah menjaga tempat ibadah dan membantu masyarakat miskin. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Tajug bukan hanya bangunan fisik tempat beribadah. Tajug adalah simbol nilai, moralitas, pendidikan, dan ruang persatuan masyarakat.
Sementara fakir miskin bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan ekonomi, melainkan simbol kepedulian sosial dan kemanusiaan.
"Pesan leluhur bukan hanya soal membangun masjid. Tetapi bagaimana nilai-nilai yang ada di dalamnya mampu menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Dan bagaimana kepedulian terhadap sesama menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari," jelasnya.
Karena itu Bambang menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya pembangunan fisik.
Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran sosial, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan masalah kemanusiaan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah saja.
BACA JUGA:Reses di Cirebon Timur, Bambang Mujiarto Buka Jalan KUR untuk Petani Tebu
Diperlukan kerja sama antara rakyat, tokoh masyarakat, pemuda, ulama, dan seluruh elemen bangsa.
"Kepedulian sosial adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika keduanya berjalan bersama, persoalan besar akan lebih mudah diselesaikan," ujarnya.
Sebagai putra daerah yang lahir dan tumbuh di tanah Bakung, Bambang mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampung halamannya. Baginya, Bakung bukan sekadar tempat lahir.
Bakung adalah tanah yang menyimpan jejak sejarah panjang, melahirkan banyak tokoh, dan memiliki kontribusi penting dalam pembangunan daerah.
"Saya lahir di tanah Bakung. Tumbuh di tanah Bakung. Dan hari ini saya dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah. Karena itu saya memiliki tanggung jawab moral untuk terus berjuang bagi kemajuan masyarakat," katanya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa bangga terhadap desa dan leluhurnya. Menurut Bambang, Bakung bukanlah desa biasa.
Bakung adalah tanah yang memiliki sejarah luar biasa dan melahirkan banyak tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi Kabupaten Cirebon.
"Bila kita melihat perjalanan pembangunan daerah, banyak putra-putri Bakung yang dipercaya mengisi posisi strategis."
"Ada yang menjadi pimpinan lembaga, ada yang menjadi pejabat, ada yang menjadi tokoh masyarakat. Ini menunjukkan bahwa tanah Bakung memiliki potensi luar biasa," ujarnya.
Namun kebanggaan tersebut, kata Bambang, tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah semata. Kebanggaan harus diwujudkan dalam kerja nyata untuk membangun daerah.
Karena itu dirinya bersama para tokoh masyarakat berkomitmen untuk terus berjuang bukan hanya bagi Desa Bakung, tetapi juga bagi Kabupaten Cirebon secara keseluruhan.
BACA JUGA:Jaga Identitas Daerah, Pemkab Cirebon Percepat Pengakuan Cagar Budaya
"Kita ingin Bakung lebih maju. Kita ingin Kabupaten Cirebon lebih baik dari hari ini. Dan setiap langkah pembangunan harus selalu mengingat pesan para leluhur agar tidak kehilangan arah," tegasnya.
Malam semakin larut. Namun cahaya obor masih menyala. Di bawah langit Bakung yang tenang, ribuan warga terus berjalan menuju Situs Ki Gede Surang.
Langkah mereka bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin untuk memahami siapa diri mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka akan melangkah.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, masyarakat Bakung seolah ingin menyampaikan sebuah pesan sederhana namun sangat mendalam.
Bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan sejarah.
Bahwa masa depan yang kuat hanya dapat dibangun oleh mereka yang memahami akar budayanya sendiri.
Dan di antara nyala obor yang menembus gelap malam itu, tersimpan keyakinan bahwa kedamaian di bumi Cirebon akan tetap terjaga selama masyarakatnya mampu merawat nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Sebab sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah adalah fondasi masa kini. Dan dari fondasi itulah masa depan dibangun.
Maka, malam 1 Suro di Bakung bukan hanya tentang mengenang leluhur.
Ia adalah ikrar bersama untuk menjaga persatuan, merawat budaya, menguatkan kemanusiaan, dan menatap masa depan Cirebon dengan harapan yang sama.
Satu tanah, satu sejarah, satu tujuan. Cirebon yang damai, berbudaya, dan lebih baik untuk generasi yang akan datang. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


