Bikin Emak-emak Pusing! Harga Ayam Naik Tajam, Cabai dan Sayur Ikut Meroket
Harga bahan pokok kembali mahal di Kuningan. Ayam, cabai hingga sayur terus meroket, membuat pembeli mengurangi belanja dan pedagang mengeluhkan omzet turun.-Ninda Nevada-Radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Harga-harga kembali mahal di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Dalam tiga hari terakhir, harga berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mulai dari ayam potong, daging sapi, cabai hingga berbagai jenis sayuran.
Fenomena ini terjadi bersamaan dengan dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah serta kembali beroperasinya dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga permintaan terhadap sejumlah bahan pangan meningkat.
Pantauan di Pasar Kepuh Kuningan pada Jumat (17/7/2026) menunjukkan hampir seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan harga.
BACA JUGA:Kecelakaan 3 Hari Berturut-Turut, Pemerhati Lalu Lintas Desak Evaluasi Manajemen Keselamatan Truk
Kenaikan paling mencolok terjadi pada ayam broiler. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp33 ribu per kilogram, kini harganya melonjak menjadi Rp44 ribu per kilogram atau naik sekitar Rp11 ribu.
Tak hanya ayam, harga daging sapi juga ikut terkerek. Dari sebelumnya Rp122 ribu per kilogram, kini mencapai Rp140 ribu per kilogram.
Salah seorang pedagang di Pasar Kepuh, Euis Maemunah, mengaku kenaikan harga terjadi hampir setiap hari dan belum menunjukkan tanda-tanda akan turun.
"Setiap hari naik. Paling tinggi ayam broiler. Komoditas lain juga ikut naik, termasuk telur. Sampai sekarang belum ada yang turun," ujarnya.
BACA JUGA:Kredit Motor Listrik Polytron Fox 500 Edisi Juli 2026, Cicilan Murah dan Proses Pengajuan Mudah
Meski harga terus naik, kondisi tersebut tidak serta-merta meningkatkan pendapatan pedagang.
Justru sebaliknya, omzet penjualan mengalami penurunan karena banyak konsumen mengurangi jumlah belanja.
Menurut Euis, stok bahan pokok sebenarnya masih aman. Namun, masyarakat kini lebih selektif dalam berbelanja karena harus menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi.
"Barang ada, stok aman. Tapi pembeli sepi. Banyak yang akhirnya batal belanja atau membeli lebih sedikit karena harganya terus naik," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

