Daya Motor

Simalakama Fiskal Antara Janji Politik dan Batas Defisit

Simalakama Fiskal Antara Janji Politik dan Batas Defisit

S. Sandi Wiranata Pemerhati Ekonomi Politik tinggal di Cirebon-Istimewa-radarcirebon

RADARCIREBON.COM-Pergantian pucuk pimpinan di Kementerian Keuangan membawa publik pada satu pertanyaan utama yaitu bagaimana arah dan daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menopang berbagai program prioritas nasional? Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya ekspektasi masyarakat, ketersediaan ruang fiskal (fiscal space) menjadi ujian paling nyata bagi kepemimpinan baru di Kementerian Keuangan.

Sebagai instrumen utama pembangunan, belanja negara tidak hanya dituntut membesar secara kuantitas, tetapi juga tepat sasaran secara kualitas.

Nakhoda baru Kementerian Keuangan dihadapkan pada persimpangan krusial antara menjaga disiplin anggaran dengan memastikan mesin prioritas nasional tetap berjalan optimal.

Pemerintah membawa sederet agenda strategis yang membutuhkan alokasi dana yang sangat besar.

BACA JUGA:Miris! Korban Kekerasan Anak di Jalaksana Kuningan Dipukul, Dijambak, Diinjak

Pembiayaan program-program ini menghadapi tantangan riil di berbagai sektor prioritas dari sisi pembiayaan antara lain sektor endidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM) meski konstitusi mengamanatkan alokasi minimal 20% APBN untuk pendidikan, tantangan terbesar terletak pada efektivitas dan kualitas penyalurannya.

Kebutuhan pembiayaan tidak hanya untuk operasional sekolah dan beasiswa, tetapi juga peningkatan program gizi, perbaikan sarana belajar yang rusak, hingga akselerasi vokasi.

Kementerian Keuangan diuji untuk memastikan setiap rupiah anggaran pendidikan benar-benar meningkatkan kualitas SDM nasional, bukan terserap pada beban administrasi, sektor ketahanan pangan merupakan salah satu yang krusial di tengah ancaman iklim ekstrem dan gejolak harga komoditas global, belanja ketahanan pangan menjadi krusial.

Pembiayaan APBN dituntut untuk memperkuat subsidi pupuk yang tepat sasaran, pembiayaan cetak sawah baru, modernisasi alutsistan (alat mesin pertanian), hingga penguatan stok cadangan pangan pemerintah. Pengeluaran di sektor ini harus mampu menekan inflasi pangan sekaligus menjaga kesejahteraan petani.

BACA JUGA:Kapal Virgo Trans Terbalik, Warga Cirebon Belum Ditemukan: Istri Menangis, Anak Berharap Ayah Pulang

Infrastruktur dan Konektivitas antar daerah yang merupakan pembangunan infrastruktur dasar mulai dari jalan tol, jembatan, bendungan pendukung irigasi, hingga infrastruktur energi bersih tetap membutuhkan suntikan modal yang intensif.

Tantangannya adalah menyeimbangkan keberlanjutan pembiayaan proyek strategis nasional (PSN) tanpa memberatkan arus kas BUMN karya atau membengkakkan utang negara.

pentingnya menjaga keseimbangan dan skema pembiayaan kreatif guna mendukung pembiayaan seluruh agenda prioritas tersebut tanpa merusak kesehatan fiskal, kebijakan baru harus cermat mengelola beberapa batasan utama di antaranya harus mampu menjaga batas defisit APBN karena penambahan beban belanja prioritas tidak boleh mengorbankan konsolidasi fiskal.

Menjaga defisit APBN tetap di bawah batas aman 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah patokan mutlak demi mempertahankan kepercayaan investor dan stabilitas keuangan nasional, di butuhkan penajaman belanja (Spending Review) sebagai kunci untuk membiayai program baru tanpa memicu beban anggaran berlebih dan terletak pada efisiensi penggunaan anggaran yang tepat sasaran.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait