Perubahan Iklim Membuat Petani Kamboja Merana

Sabtu 15-01-2022,15:00 WIB
Reporter : Leni Indarti Hasyim
Editor : Leni Indarti Hasyim

 

BACA JUGA: 1.100 Rumah di Pandeglang Rusak karena Gempa di Sumur Banten

 

Para petani di Asia Tenggara itu menghadapi ancaman yang semakin besar karena meningkatnya kebutuhan akan lahan, kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim, dan pengembangan pembangkit listrik tenaga air mengurangi ketersediaan air pertanian mereka.

 

Sejak 2018, volume air di Tonle Sap semakin berkurang . Menurut laporan Komisi Sungai Mekong (MRC), selama November 2020 dan Mei tahun lalu ketingggian air mencapai titik terendah sepanjang masa.

 

Danau tersebut mengalami kekeringan parah pada tahun 2019, seperti halnya sistem Sungai Mekong yang menjadi sandarannya, meninggalkan dampak jangka panjang pada permukaan air. Pada Januari 2020, volume danau sekitar 6.000 juta meter kubik, sepertiga dari volume rata-rata musim kemarau, menurut MRC.

 

Petani padi Siem Reap, Van Ra (44) mengatakan, cuaca belum membaik sejak kekeringan 2019, sehingga pertaniannya pun tak lagi menguntungkan.

 

Dia mencoba menanam padi dua kali tahun lalu. Namun biaya membengkak karena kenaikan harga sewa tanah dan tanamannya harus disemprot pestisida lebih sering akibat cuaca tak menentu.

 

“Tidak ada gunanya karena hampir tidak ada yang bisa dipanen. Melakukannya dua kali tidak mungkin karena air tidak cukup,” keluhnya.

 

Pertumbuhan penduduk dan kenaikan harga tanah telah memicu pembalakan hutan besar-besaran karena banyak orang butuh lahan untuk rumah dan pertanian. Kebutuhan akan air pun meningkat tajam. Sementara sumber air relatif tetap. Volume air danau di kamboja itu tetap saja tergantung dari lelehan salju dari Tibet dan provinsi Yunnan.  Sementara perluasan pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air di sungai Mekong jadi beresiko karena ketinggian air bermasalah.(rmol)

Tags :
Kategori :

Terkait