Fans Sudah Murka, Akankan Juventus Pecat Allegri Setelah Kalah dari Benfica?

Kamis 15-09-2022,09:39 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Tatang Rusmanta

Alih-alih membuahkan hasil positif, justru yang ada malah rangkaian kekecewaan terutama dalam beberapa pekan terakhir hingga membuat Juventini, para pendukung Juve, frustrasi.

Awalnya mungkin bisa dipahami mengapa manajemen Juventus menunjuk kembali Allegri.

Bermodalkan rekor apik selama periode pertamanya melatih antara 2014 dan 2019 yang menghasilkan lima Scudetto Serie A dan dua kali menjadi finalis Liga Champions.

Hanya saja, makin ke sini nuansa CLBK - cinta lama bersemi kembali - Juventus dengan sang allenatore terkesan hanya sebuah delusi.

Tanda-tandanya sudah terlihat musim lalu, saat Allegri memulai debut keduanya di Turin.

Juve gagal memenangkan salah satu dari empat pertandingan liga pertama mereka untuk pertama kalinya dalam 61 tahun untuk memulai dengan awal kampanye yang meresahkan.

Meski pun ada tanda-tanda perbaikan, yang tidak terlalu signifikan, Juve tidak pernah benar-benar menunjukkan potensi terbaik mereka.

Malah tersingkir secara memalukan di babak 16 besar Liga Champions untuk musim ketiga berturut-turut menambah kesengsaraan mereka.

Juventus pada akhir musim 2021/22 kembali gagal memenuhi ekspektasi Scudetto mereka.

Lebih parah lagi, jika semusim sebelumnya pelatih debutan, Andrea Pirlo dianggap gagal karena melewatkan titel Serie A meski mempersembahkan Coppa Italia, Allegri malah kandas di semua kompetisi, menutup kampanye dengan nirgelar untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir klub.

Musim ini, harapan bangkit di bawah Allegri sebenarnya masih ada. Sang pelatih mendapat waktu lebih untuk membangun kembali timnya, mendatangkan para pemain yang diinginkan untuk skemanya.

Tapi hasilnya tetap sama, Juventus kembali tertatih-tatih mengawali musim 2022/23.

Dua kemenangan dalam 11 laga di semua kompetisi, tercecer di posisi kedelapan Serie A, bahkan lebih parahnya, permainan Juve tidak mencerminkan mereka sebagai klub besar.

Juve era Allegri cenderung bermain aman, bukannya bertujuan meraih kemenangan namun menghindari kekalahan.

Jika itu dilakukan saat menghadapi klub-klub yang di atas kertas lebih kuat, bisa dimaklumi, namun pola permainan 'pengecut' itu malah lebih sering ditampilkan saat lawan tim-tim kecil.

Contoh terbaru adalah ketika harus susah payah mengejar ketertinggalan untuk meraih hasil imbang 2-2 lawan Salernitana di kandang sendiri, Senin 12 September 2022.

Kategori :