JAKARTA - Kondisi pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh angka 12.000 terhadap dollar AS dianggap di atas batas wajar. Bahkan, posisi tersebut diproyeksi makin parah jika para eksporter tetap enggan melepas dollarnya ke pasar valuta asing (valas). Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, beberapa pekan lalu rupiah masuk ke level 11.000-11.500 per USD, sebetulnya dinilai telah cukup bagus untuk menekan impor dan menggenjot ekspor. \"Di atas itu (11.500) adalah overshoot (gejolak lebih besar dari fundamental). Kisaran 11.000-11.500 adalah tepat untuk ekonomi sekarang,\" paparnya di Gedung DPR, kemarin (3/12). Penyebab tertekannya nilai tukar rupiah tersebut dipicu oleh likuiditas pasar valas yang makin kering. Suplai valas tak mampu memenuhi permintaan yang kebanyakan untuk impor setiap bulannya. Mirza menyebutkan, dengan kualitas nilai ekspor yang mencapai USD 15 miliar per bulan, perputaran dollar tercatat hanya USD500 juta per hari. \"Itu kan terlalu kecil. Artinya yang punya dollar terutama eksporter tidak bersedia menjual. Padahal kursnya adalah kurs yang pas,\" terangnya. Perlu diketahui, jumlah pelapor dana hasil ekspor (DHE) ke bank devisa di dalam negeri saat ini sekitar 11.700 eksporter. Dengan kontributor DHE terbesar berasal dari komoditi batu bara dan crude palm oil atau minyak sawit mentah. Sayangnya, nilai DHE yang terlapor hanya kisaran 80-85 persen dari total ekspor. Sisanya tak bisa masuk ke dalam negeri lantaran beberapa faktor. Salah satunya adanya perjanjian eksporter dengan investor di luar negeri, untuk menempatkan DHE di bank asing di luar negeri. Ada pula karena eksporter yang melakukan penangguhan pelaporan DHE, yang jumlahnya hingga kini masih mencapai 87 perusahaan. Karena itu, Mirza mengakui hingga kini BI tak mampu melepas seratus persen intervensinya. Akibatnya, Otoritas Moneter tersebut selalu ada di pasar dan menggerojok likuiditas dollar. \"Supaya (rupiah) tidak terlalu volatile. Jadi seharusnya eksporter harus bisa memberikan suplai dollar di pasar,\" kata mantan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut. Namun demikian, ia optimistis hingga akhir tahun rupiah bakal bergerak membaik. Hal ini terlihat dari fundamental ekonomi tanah air yang mencatat rapor biru. \"Neraca perdagangan sudah menunjukkan hasil surplus. Artinya defisit transaksi berjalan di kuartal empat bisa 3,4-3,5 persen terhadap output ekonomi,\" jelasnya. Pada kuartal tiga 2013, defisit transaksi berjalan mencapai 3,8 persen, dan mencapai puncaknya pada kuartal dua tahun ini sebesar 4,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sebaliknya, Managing Director dan Ekonom Senior Standard Chartered Indonesia Fauzi Ichsan mengatakan, tekanan pada rupiah masih akan berlangsung hinggga tahun depan. “Puncaknya, pada triwulan II 2014, kami perkirakan rupiah akan ada di kisaran 12.500 per dolar AS,” ujarnya saat paparan Economic Outlook 2014 di Jakarta kemarin (3/12). Menurut Fauzi, tekanan pada rupiah berasal dari faktor eksternal dan internal. Dari eksternal, rencana pengurangan stimulus atau tapering off oleh Bank Sentral AS The Fed pada Juni 2014 mendatang akan menjadi sentimen bagi investor untuk mengalihkan portofolio investasinya dari negara emerging market seperti Indonesia ke AS. Sedangkan dari internal, defisit transaksi berjalan di Indonesia diperkirakan masih akan terjadi hingga tahun depan. Selain itu, faktor Pemilihan Umum (Pemilu) juga akan menjadi pertimbangan investor untuk lebih hati-hati menanamkan investasinya di Indonesia. “Pada semester II 2014, efek tapering off sudah mereda dan hasil Pemilu juga sudah ada, jadi setelah itu investor bisa kembali nyaman dengan Indonesia,” katanya. Sebagaimana diketahui, rangkaian Pemilu adakan dimulai dengan Pemilu legislatif pada 9 April 2014, dilanjutkan dengan Pemilu Presiden/Wakil Presiden pada 9 Juli 2014. Adapun presiden dan wakil presiden terpilih akan dilantik pada 20 Oktober 2014. Artinya, pada akhir tahun, investor sudah mengetahui siapa yang akan memimpin Indonesia dan bagaimana arah kebijakan ekonominya. Dengan berbagai faktor tersebut, Fauzi pun membuat proyeksi pergerakan nilai tukar rupiah yang cukup progresif. Pada triwulan IV 2013 ini, nilai tukar rupiah akan ada di kisaran 11.700, lalu pada triwulan I 2014 diproyeksi melemah ke level 12.100, lantas melemah lagi pada triwulan II 2014 ke kisaran 12.500. Setelah itu, pada triwulan III 2014 mulai menguat ke level 12.000 dan pada triwulan IV 2014 diproyeksi menguat kembali ke level 11.400 per USD. (gal/owi)
Rupiah Overshoot, Eksporter Enggan Jual Dollar
Rabu 04-12-2013,10:56 WIB
Reporter : Dedi Darmawan
Editor : Dedi Darmawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 13-03-2026,15:11 WIB
4 Pelaku Curanmor di Cirebon Ditangkap Polisi, 2 Lainnya Kabur Tinggalkan Senjata dan Motor Curian
Jumat 13-03-2026,23:29 WIB
Curanmor di Palimanan Terekam CCTV, Motor Karyawan Rumah Makan Raib dalam Hitungan Detik
Jumat 13-03-2026,16:32 WIB
Info Tol Cipali Hari Ini: 18.800 Kendaraan Mengarah ke Cirebon, Arus Mudik Mulai Terasa
Jumat 13-03-2026,17:00 WIB
Posko Mudik BPJS Kesehatan Hadir di Jalur Tol Cipali, Pemudik Bisa Cek Kesehatan Gratis
Jumat 13-03-2026,16:00 WIB
Masjid Ramah Pemudik di Cirebon, Buka 24 Jam Selama Arus Mudik Lebaran 2026
Terkini
Sabtu 14-03-2026,14:10 WIB
Kunjungi Kota Cirebon, Wamen LH Apresiasi Pengelolaan Sampah Stasiun Cirebon
Sabtu 14-03-2026,13:31 WIB
Teken Kerja Sama Penguatan SDM Guru
Sabtu 14-03-2026,13:07 WIB
Pegadaian Cirebon Bagikan Bingkisan Ramadan di Bank Sampah Kedungbunder, Sampah Ditabung Jadi Emas
Sabtu 14-03-2026,12:33 WIB
Pastikan Tepat Sasaran, Lucky Hakim Tinjau Penyaluran Banpang di Kecamatan Widasari
Sabtu 14-03-2026,11:50 WIB