Sejarah Desa Japara, Gelap Mata Kepala Desa dan Darah Putih Milik Santri

Kamis 12-01-2023,18:15 WIB
Reporter : Asep Kurnia
Editor : Asep Kurnia

Darah putih yang keluar, menjadi bukti bahwa semua tuduhan kuwu adalah fitnah, tetapi kebenaran tidak bisa menyelamatkan nyawa santri tersebut.

“Karena merasa malu, kuwu bersama keluarganya kabur ke Kapetakan Cirebon,” tambah Thamrin.

Namun sebelum kabur, kuwu mengancam kepada seluruh warga Desa Peudeuy Raweuy untuk tidak menguburkan jenazah santri itu.

"Jika ada yang melanggar maka nasibnya bakal sama seperti santri itu," tutur Thamrin.

BACA JUGA:Mengenang Tragedi Gempa Bumi dan Tsunami Aceh 2004, Hari Ini 18 Tahun yang Lalu

Warga Peundeuy Raweuy yang mendapat ancaman seperti itu, tidak ada yang berani untuk menguburkan jenazah santri.

Melalui musyawarah, penguburan santri ditawarkan ke Desa Singkup yang merupakan tetangga desa dengan imbalan tanah seluas 25 hektar.

Tawaran tersebut diterima, jasad santri akhirnya dikuburkan di wilayah Desa Singkup, sekarang makamnya terkenal dengan nama Makam Buyut Santri.

“Nama aslinya tidak ada yang tahu, tetapi masyarakat tahunya beliau adalah tokoh agama, maka makamnya disebutlah Buyut Santri,” ucap Thamrin.

Hingga sekarang, banyak warga yang berziarah ke Makam Buyut Santri itu, wewenang sepenuhnya berada di bawah Desa Singkup.

BACA JUGA:Makam Nyi Kentring Manik Mayang Sunda, Ada Versi Buniwangi dan Gunung Putri

Sebagai bentuk penghormatan dan perasaan ikut bersalah, warga Desa Peudeuy Raweuy sepakat mengubah nama desa menjadi Desa Japara.

Japara sendiri merupakan daerah asal santri tersebut yang berasal dari Jepara.

“Bisa juga disundakan, tetapi orang tua dulu memberi nama Japara karena itu merupakan singkatan dari Jajaran Para Raja,” pungkas M Thamrin.

Demikianlah sejarah Desa Japara terbentuk, menjadi cerita tutun temurun dan data sejarah yang dimiliki desa.*

Kategori :