JAKARTA - Sebagai negara dengan perekonomian terbesar, Amerika Serikat (AS) menjadi tujuan banyak orang untuk mewujudkan mimpi. Namun, warga negara Indonesia (WNI) harus ekstrahati-hati jika memutuskan untuk mencari pekerjaan di Negeri Paman Sam. Sebab, sudah banyak kasus yang membuktikan bahwa AS adalah tempat kasus perbudakan (slavery). Analis kebijakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan, kasus perbudakan yang terjadi pada salah seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) atas nama Shandra Woworuntu bukan yang pertama di AS. \"Kasus serupa sangat banyak terjadi. Hanya, jarang ada yang berani melapor,\" ungkap Wahyu yang saat dihubungi sedang berada di New York, AS, untuk mengikuti konferensi PBB tentang buruh kemarin. Shandra merupakan TKI yang harus menjalani kehidupan di rumah bordil di kawasan bisnis tersibuk di New York. Ironisnya, sejak menginjakkan kaki di AS, dia terpaksa harus menjalaninya. Hal tersebut terjadi karena dia ditipu agen kerjanya. Surat lamaran yang ditujukan untuk bekerja di salah satu hotel di Chicago justru mengantarnya ke rumah bordil tersembunyi di pusat bisnis di AS. Dia pun harus merasakan berpindah dari satu mucikari ke mucikari lainnya. Sampai akhirnya, ibu satu anak itu berhasil kabur beberapa waktu lalu. \"Artinya, jejaring sex slavery telah meluas dengan segala bentuk rayuannya,\" ujar Wahyu kemarin. Itu tidak hanya terjadi di dalam negeri. Di luar negeri juga telah menjamur. Wahyu mengaku baru mendengar kasus tersebut. Namun, dia tidak kaget kala mendengar kasus penipuan yang dialami WNI di AS. Menurut dia, biasanya agensi menawarkan pekerjaan middle income sebagai pekerja hotel, resto, atau entertainment. Agensi kemudian memproses pengurusan visa kunjungan ke AS. Sekali lolos, visa tersebut akan berlaku sampai lima tahun. \"Penipuan yang dialami WNI bahkan ada yang dilakukan pejabat-pejabat Indonesia sendiri,\" ungkapnya. Wahyu mengacu pada kasus 2011, ketika beberapa pekerja rumah tangga (PRT) di rumah dinas Dubes Dino Patti Djalal di Tilden kabur. Selain itu, lanjut Wahyu, kasus yang paling ekstrem justru dialami tenaga kerja asal India. Dia mengalami penipuan gaji yang dilakukan diplomat India sendiri. Wahyu mengatakan, kasus Shandra akan dilaporkan dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Selain kasus tersebut, dia akan membawa kasus Erwiana, TKI yang mendapat kekerasan di Hongkong. Juga, kasus Sihatul, TKI yang disiksa hingga koma di Taiwan. Dengan dibawanya kasus tersebut ke pertemuan internasional, keadilan diharapkan dapat sepenuhnya dicapai. Lebih dari itu, tidak akan ada kasus serupa yang terjadi. Sementara itu, pihak KJRI di New York belum memberikan keterangan mengenai kasus Shandra. Pihak KJRI hanya mengatakan bahwa pihaknya akan menelusuri lebih lanjut laporan atas kasus yang terjadi. (mia/c10/kim)
WNI Jadi Sasaran Perbudakan Seks
Senin 03-02-2014,10:49 WIB
Reporter : Dedi Darmawan
Editor : Dedi Darmawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 14-03-2026,23:15 WIB
Berkah Lebaran 2026, 20 Mobil Andi Rent Car Majalengka Ludes Disewa Pemudik
Minggu 15-03-2026,02:01 WIB
Ratusan Tukang Becak dan Sopir Angkot Cirebon Dapat Kompensasi Rp1,4 Juta Jelang Mudik Lebaran
Sabtu 14-03-2026,20:02 WIB
Heboh! Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Trotoar Lampu Merah Rajawali Cirebon
Sabtu 14-03-2026,22:58 WIB
Kecelakaan di Dukupuntang Cirebon, Dua Motor Tabrak Mobil Misterius, Tiga Orang Terluka
Sabtu 14-03-2026,22:01 WIB
Jalan Poros Mundu–Greged Rusak Parah, Ujang Busthomi Turun Tangan Perbaiki
Terkini
Minggu 15-03-2026,16:02 WIB
Wujudkan Kepedulian terhadap Kesehatan Lansia, SANF Berbagi Kebahagiaan Ramadan lewat SANFull of Blessings
Minggu 15-03-2026,15:34 WIB
Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Primaya Hospital Bekasi Barat Luncurkan Wellness Center ?
Minggu 15-03-2026,15:02 WIB
Cek Kesehatan Gratis dari PT S2P - PLTU Cilacap Dorong Edukasi Kesehatan Warga
Minggu 15-03-2026,14:35 WIB
Pasar Properti Nasional Bertahan Stabil di Tengah Penyesuaian Daya Beli
Minggu 15-03-2026,14:03 WIB