Normalisasi Sungai Cikamangi Mendesak

Senin 24-02-2014,09:32 WIB
Reporter : Dedi Darmawan
Editor : Dedi Darmawan

MAJALENGKA – Musibah banjir yang melanda Desa Lojikobong Kecamatan Sumberjaya diketahui akibat patahnya jembatan Cikadu yang panjangnya 27 meter dengan lebar 2,5 meter tersebut. Kepala Desa Lojikonong Eman menengarai akibat derasnya terjangan air kiriman dari hulu Sungai Cimanuk membuat kondisi jembatan tidak bisa menahan. Selain jembatan, juga jebolnya tanggul sepanjang 12 meter yang berada di Blok Rabu, Rt 04 Rw 06 jebol serta tanggul lainnya sepanjang 15 meter yang berada di dusun Cikamangi. “Kalau tanggul yang ada di Dusun Cikamangi memang sudah jebol sejak hari pertama banjir atau dua hari sebelum musibah susulan terjadi. Persoalan jebolnya tanggul belum ada informasi akan diperbaiki oleh instansi terkait,” ujarnya. Pihaknya mendesak kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung agar secepatnya memperbaiki kondisi tanggul jebol serta dilakukan normalisasi sungai yang mengitari wilayah Desa Lojikobong dan Desa Leuweunghapit, Kecamatan Ligung. Pemdes setempat sudah melaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majalengka dan BBWS. “Harga mati kami terus mendesak kepada instansi berwenang agar tanggul serta jembatan yang jebol segera diperbaiki. Kondisi pendangkalan sungai pun harus secepatnya diatasi. Sebab, hal ini masih memasuki musim hujan yang sewaktu-waktu dikhawatirkan akan meluap lagi,” tegas dia. Diakui Eman, masyarakatnya yang terkena dampak musibah banjir akibat mengamuknya Sungai Cikamangi dan Cibayawak sampai hari ketiga, Minggu (23/2) belum juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka. Desa Lojikobong yang merupakan titik terparah banjir itu belum ada bantuan baik logistik maupun sarana lainnya dari Pemkab Majalengka. Padahal warga yang terdampak banjir sangat membutuhkan peralatan kebersihan. “Belum ada bantuan yang masuk. Memang kami membutuhkan sarana untuk membersihkan ratusan rumah bekas terendam banjir ini. Mungkin karena hari libur (Sabtu-Minggu) jadi bagi pemkab belum bisa datang secara langsung ke korban banjir ini,” ungkapnya. Senada juga ditegaskan kepala Desa Leuweunghapit Kecamatan Ligung, Arifin. Pihaknya terus menagih janji pelaksanaan program normalisasi sungai dan penyenderan di desanya. Pasalnya, tidak hanya Sungai Cikamangi yang kerap meluap setiap musim penghujan, tetapi sungai lainnya seperti Ciranggon yang mengitari wilayah Leuweunghapit pada Jumat (21/2) lalu pun ikut meluap. Pihaknya mencatat pascamusibah banjir tersebut terdapat 105 unit rumah dan 80 hektare areal pertanian di desanya terendam banjir. “Harusnya tahun sekarang sudah bisa direalisasikan tetapi masih belum juga. Padahal musibah banjir sudah sangat parah,” tegasnya. Dijelaskan, saat itu proyek perbaikan jaringan irigasi khususnya di Sungai Ciranggon baru bisa direalisasikan untuk aliran sungai yang berada di Desa Cidenok, Kecamatan Sumberjaya. Kecemasan dan keprihatinan warga atas bencana banjir ini belum mendapat perhatian serius dari instansi terkait. Diakuinya, dari sejumlah informasi yang diterima, pihak BBWS telah melakukan survei ke sejumlah titik khususnya pada Sungai Cikamangi. “Tetapi hal ini hanya sebatas survei, kapan direalisasikannya? Kami terus menunggu kejelasan dari pihak BBWS tersebut,” tandasnya. (ono)

Tags :
Kategori :

Terkait