KUNINGAN - Program jaminan kesehatan nasional (JKN) yang diluncurukan pemerintah sejak awal tahun hingga saat ini tidak berjalan mulus. Banyak keluhan yang disampaikan pasien, terutama dalam hal pelayanan dan juga pembayaran. Ini menjadi aneh ketika pemerintah selalu menyebutkan bahwa pemegang kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) gratis berobat. Namun kenyataan di lapangan pasien harus bayar. Sementara pihak rumah sakit beralasan jenis obat yang diperlukan pasien tidak ada di rumah sakit. “Saya bingung katanya gratis namun tetap harus keluar uang untuk menebus obat. Mana yang benar? Kalau memang harus bayar ya tidak usah ada BPJS,” ujar Nana Juhana Warga Kecamatan Jalaksana kepada Radar, kemarin (28/3). Menurutnya, meski berat hati terpaksa membayar karena takut orang tuanya meninggal. Nana meminta ketegasan kepada pemerintah terkait BPJS, karena di lapangan banyak ditemukan ketidaksesuaian. Bukan hanya Nana, Enih warga Kecamatan Ciniru yang akan berobat ke rumah sakit ditolak dengan alasan kuota penuh. Menurut bagian pendafatran rumah sakit ini hanya menerima pasien BPJS maksimal delapan orang. “Saya terpaksa menggunakan pasien umum dari pada adik meninggal. Ia terkena sesak napas, makanya dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik kami menggunakan uang sendiri meski punya kartu BPJS,” ujar dia. Sebelumnya, Kadinkes H Raji K Sarji membantah bahwa pasien harus bayar. Begitu juga ada penolakan dari pihak rumah sakit. \"Mungkin ada yang salah prosedur karena masyarakat kita sedikit-sedikit ke rumah sakit padahal di puskesmas bisa diatasi,\" kata Raji. Dari pantauan Radar, banyak peserta BPJS yang lansung mendatangi Kantor BPJS Kuningan untuk mengeluhkan kondisi tersebut. Seperti yang dialami Ernawati, salah soerang pasien yang mengaku mengeluarkan biaya saat berobat. “Pak, saya ke sini menanyakan alasan kenapa harus bayar katanya gratis,” ujar salah seorang kerabat Ernawati yang mendatangi meja petugas BPJS Kuningan. Setelah pegawai BPJS menelpon ke pihak rumah sakit. Kerabat Ernawati langsung disuruh menghubungi salah satu dokter untuk menerangkan alasan mengenai harus mengeluarkan dana hingga jutaan. Sementara itu, Dinkes Kuningan melakukan sosialasisi kepada 480 orang dari berbagi unsure baik UPTD puskes, tokoh masyarakat hingga perangkat desa. Acara yang dilangsungkan di Aula Rumah Makan Mayang itu tampak hadir Bupati Kuningan Hj Utje Hamid Suganda. Menurut Utje, BPJS adalah program kesehatan masyarakat yang telah dijamin oleh negara. Oleh karenanya harus diketahui oleh masyarakat luas. “Saya minta agar semua warga mengetahui adanya program ini agar bisa memanfatkan untuk jaminan kesehatan,” jelas Utje. Ujte juga meminta pihak dinkes untuk terus menyosialisasikan, sehingga warga paham dengan BPJS. (mus)
Aneh! Pasien BPJS Tetap Bayar Obat
Sabtu 29-03-2014,12:46 WIB
Reporter : Dedi Darmawan
Editor : Dedi Darmawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 12-03-2026,03:02 WIB
BMKG Rilis Posisi Hilal Syawal 1447 H, Idulfitri Diprediksi 21 Maret 2026
Kamis 12-03-2026,05:01 WIB
Kuota Mudik Gratis Jabar Masih Ada! 1.012 Kursi Tersisa, Cek Rute dan Jadwalnya
Rabu 11-03-2026,22:00 WIB
Penumpang Kereta Wajib Tahu! Ini Aturan Bagasi di Kereta Api dari Daop 3 Cirebon
Kamis 12-03-2026,08:39 WIB
Program Gentengisasi Jatiwangi Resmi Dimulai, Maruarar Sirait Lepas 14 Truk Genteng Senilai Rp3 Miliar
Kamis 12-03-2026,04:01 WIB
BGN Hentikan Operasional 1.512 SPPG di Jawa, Ini Daftar Provinsi Terdampak
Terkini
Kamis 12-03-2026,21:22 WIB
Kelme Rilis Jersey Terbaru Timnas Indonesia, Harga Mulai Rp749 Ribu
Kamis 12-03-2026,21:07 WIB
Belajar Al-Qur’an hingga Berbagi Takjil, Ramadan DWP Kota Cirebon Berakhir Khidmat
Kamis 12-03-2026,20:21 WIB
Mantan Menag Yaqut Ditahan di Rutan KPK, Berikut Perjalanan Kasus Kuota Haji
Kamis 12-03-2026,20:01 WIB
Ditahan KPK, Yaqut Cholil Qoumas Tegas Bantah Terima Uang Korupsi Kuota Haji
Kamis 12-03-2026,19:02 WIB