Study Tour Juga Disorot, Orangtua Murid Ancam Demo Lebih Besar di Balkot Cirebon

Kamis 31-07-2025,10:39 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Rusdi Polpoke

Oleh karena itu, Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Kota Cirebon mengancam akan menggelar aksi lebih besar, pekan depan pada Senin, 4 Agustus 2025.

Aksi serupa akan kembali digelar di lokasi yang berbeda. Yakni di Balai Kota Cirebon.

BACA JUGA:Pemicu Demo Orang Tua Murid di Kota Cirebon, Seragam SMP Dipatok Rp3 Juta tanpa Kuitansi

BACA JUGA:Hadiri Pelantikan FKDT, Wakil Walikota Bilang Begini Soal Pendidikan Keagamaan di Kota Cirebon

Sementara itu, dalam demo yang digelar kemarin, massa menyoroti sejumlah hal. Termasuk pungutan liar dengan dalih uang seragam.

Tryas mengatakan, seragam sekolah di salah satu SMP Negeri di Kota Cirebon dipatok dengan harga tertinggi mencapai Rp3 juta. 

Transaksi ini pun dinilai mencurigikan, sebab pihak sekolah tidak menjelaskan rincian biayanya dan tidak mengeluarkan kuitansi pembelian. 

“Orang tua memberikan uang seragam, tidak ada tanda terima dari sekolah. Tidak ada kuitansi, tidak ada rinciannya. Hanya lisan dari pihak sekolah,” kata Tryas.

Hal lain yang juga jadi sorotan adalah sejumlah kejanggalan pada Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB 2025. 

Mereka menduga telah banyak kecurangan yang terjadi. Menurut Tryas,  pihaknya sudah melakukan investigasi.

Di setiap sekolah terjadi pungutan liar yang dilakukan sekolah dengan mengatasnamakan komite sekolah.

Di antaranya, pungutan seragam dengan nominal yang berbeda-beda di setiap sekolah. Paling kecil Rp1,1 juta, Rp1,4 juta, sedangkan yang paling besar mencapai Rp3 juta.

“Harga seragam sebesar itu dari mana, kalau bukan di-mark up oleh oknum di sekolah tersebut," yandas Tryas.

Ia menyebutkan bahwa SMPN yang paling tinggi biaya seragamnya berlokasi di wilayah Perumnas. 

Ia merasa harus bersuara, karena masyarakat tak mampu banyak yang menjadi korban. Memaksakan biaya pendidikan dengan berhutang di bank keliling dengan bunga yang tinggi.

“Sebelum kami melakukan aksi ini, orang tua murid menyampaikan keluhan. Mereka takut bersuara, karena khawatir ada tindakan terhadap anaknya. Baik itu bully, intimidasi atau sindiran. Kami jaga kerahasian ortu tersebut," ucap Tryas.

Kategori :