Tahun ini, sambung Prabu Diaz, perayaan Milad ke-9 turut menghadirkan berbagai agenda.
"Masyarakat dapat mengikuti pengobatan gratis, menyaksikan pertunjukan seni budaya, prosesi sakral 9 kendi, Kidung Cirebonan, Ziarah Wali, hingga Musyawarah Besar laskar," paparnya.
Prabu Diaz menyebutkan, penggunaan atribut tradisional seperti pangsi serta pusaka merupakan komitmen organisasi dalam merawat warisan leluhur berbasis nilai, artefak, dan karya seni.
"Kami ingin memastikan warisan budaya tersebut tetap terjaga dan tidak hilang," sebutnya.
BACA JUGA:Wapres Gibran Dapat Surat dari Siswa Sekolah Rakyat di Cirebon, Begini Isinya
BACA JUGA:Kuasa Hukum Nashrudin Azis Sentil Kejaksaan Soal Kasus Gedung Setda Cirebon: Kok Redup!
Ia juga menyinggung tantangan era digital di mana generasi muda kian terpengaruh budaya luar.
Meski begitu, ia menilai hal itu masih wajar selama tidak melunturkan apresiasi terhadap budaya asli bangsa.
"Arus teknologi informasi sangat kuat sehingga anak muda kerap terlena. Kami berupaya agar mereka tetap bangga pada hasil karya leluhur," tambahnya.
Prabu Diaz memastikan seluruh kegiatan Laskar Agung Macan Ali Nuswantara akan selalu menonjolkan budaya sebagai ciri khas dan sumber identitas bangsa.
“Budaya harus ditonjolkan, karena di situlah jati diri bangsa berada,” tutupnya.