Menurut Sutrisno, satu ekor rajungan betina mampu menghasilkan hingga satu juta telur. Dari fase larva hingga siap tangkap membutuhkan waktu sekitar tiga hingga delapan bulan, sehingga pelepasliaran benih dinilai penting untuk menjaga stok rajungan di perairan Cirebon.
Meski demikian, keterbatasan sarana masih menjadi kendala. Proses karantina saat ini masih menggunakan peralatan sederhana berupa ember, air laut, dan aerator, yang dinilai belum ideal untuk skala yang lebih besar.
Selain keterbatasan fasilitas, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan juga menjadi faktor utama menurunnya populasi rajungan.
Penangkapan rajungan yang belum dewasa dinilai merusak ekosistem dan mengancam keberlanjutan sumber daya laut.
“Kami hanya berusaha menjaga agar rajungan tetap ada. Kalau benihnya dijaga, kedepan nelayan juga yang merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (awr)