Para pedagang tertarik. Nuaiman lalu menunjuk Suwaibith yang sedang menjaga makanan sebagai “budaknya”.
Saat Suwaibith membantah dan mengatakan dirinya orang merdeka, para pembeli justru menganggap itu bagian dari “kebiasaan budak” yang telah diperingatkan sebelumnya oleh Nuaiman.
Ketika Abu Bakar kembali dan mendapati Suwaibith tidak ada, Nuaiman dengan santai berkata bahwa ia telah menjualnya. Setelah mengetahui kejadian sebenarnya, Abu Bakar pun menebus Suwaibith.
Kisah ini sampai ke telinga Rasulullah dan membuat beliau tertawa lepas. Bahkan, menurut riwayat, cerita ini sering beliau ulang kepada tamu-tamunya selama setahun setelah kejadian tersebut.
2. Kisah “Hadiah” Madu untuk Rasulullah
Trik Manis yang Menggelitik
Pada suatu hari, Nuaiman melihat seorang pedagang madu kepanasan karena dagangannya tak kunjung laku. Ia pun memiliki ide unik.
Nuaiman membawa pedagang tersebut ke rumah Rasulullah. Namun, setelah itu ia pergi begitu saja, sambil berpesan bahwa penghuni rumah akan membayar madu tersebut.
Ketika madu diserahkan, Rasulullah mengira itu hadiah. Beliau pun membagikannya kepada para sahabat. Tak lama kemudian, si pedagang meminta bayaran.
Rasulullah langsung memahami siapa dalang di balik kejadian tersebut. Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, beliau berkata bahwa ini pasti ulah Nuaiman.
Saat ditanya, Nuaiman menjawab polos, “Wahai Rasulullah, aku tahu engkau menyukai madu. Namun aku tak punya uang untuk membelinya. Maka aku hanya bisa membawanya kepadamu.”
Jawaban ini membuat suasana menjadi hangat. Rasulullah pun membayar madu tersebut.
3. “Traktiran” yang Berakhir Tak Terduga
Dalam kesempatan lain, Rasulullah dan para sahabat sedang duduk bersama. Tiba-tiba Nuaiman membagikan makanan kepada mereka.
Setelah semua selesai makan, Nuaiman berkata, “Wahai Rasulullah, itu penjualnya. Engkaulah yang membayar. Tidak pantas rakyat kecil seperti saya mentraktir seorang pemimpin.”
Rasulullah terkejut, namun beliau menyikapinya dengan tenang. Bersama para sahabat, beliau membayar makanan tersebut.