RADARCIREBON.COM - Momentum langka hadir di tahun ini. Tiga hari besar keagamaan, yakni Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri, jatuh dalam rentang waktu yang berdekatan.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi memiliki makna mendalam bagi kehidupan kebangsaan.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, M Asyrof Abdik SHub Int menilai, berdekatannya perayaan tersebut sebagai simbol kuat tentang keberagaman Indonesia yang harmonis.
Menurutnya, momen ini mencerminkan gagasan besar almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang Indonesia yang inklusif dan menjunjung tinggi toleransi.
BACA JUGA:Sidak ASN Indramayu Usai Lebaran, 9 Pegawai Absen karena Cuti Resmi
“Tahun ini, kalender kita seperti menyajikan simfoni yang langka. Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri hadir dalam waktu yang berdekatan. Ini bukan sekadar kebetulan penanggalan, tetapi manifestasi nyata dari cita-cita Indonesia yang inklusif," ujar Asyrof kepada Radar Cirebon, Rabu (25/3/2026).
Politisi PKB itu menjelaskan, makna toleransi perlu dimaknai lebih dalam. Secara etimologis, toleransi berasal dari bahasa Latin tolerare yang berarti “menanggung beban”.
Namun, kata Asyrof, masyarakat Indonesia diajak untuk melampaui makna tersebut.
“Momentum ini mengajak kita mengubah toleransi dari sekadar beban yang ditanggung menjadi kekayaan yang patut disyukuri,” ungkapnya.
Ia menggambarkan perjalanan spiritual yang beriringan dalam momen tersebut. Cahaya lampion Imlek yang masih terasa, kemudian berganti dengan keheningan Nyepi, hingga akhirnya mencapai puncak kegembiraan saat Idul Fitri.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung peran lembaga legislatif dalam menjaga harmoni sosial.
Menurutnya, di tengah dinamika perdebatan kebijakan di gedung dewan, para wakil rakyat tetap harus menyadari bahwa masyarakat yang diwakili merupakan satu kesatuan yang utuh.
“Di gedung dewan kita boleh berbeda pendapat, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa rakyat yang kita wakili adalah satu kesatuan batin,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tugas pemerintah tidak hanya sebatas membangun infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan, tetapi juga merawat "infrastruktur batin" antarumat beragama.
Ia juga menilai toleransi sejati bukan sekadar sikap pasif atau menghindari konflik, melainkan upaya aktif untuk hidup berdampingan dengan perbedaan.
BACA JUGA:Viral di Pantai Balongan Indah, Wisatawan Nyaris Tewas Tersedak Sosis