Cirebon United: Pabrik Pemain Nasional di Kota Udang

Sabtu 18-04-2026,11:06 WIB
Reporter : Ade Gustiana
Editor : Leni Indarti Hasyim

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Sepak bola bukan sekadar urusan otot dan lari. Di Cirebon United, olahraga ini adalah perpaduan intelektual, karakter, dan spiritualitas. Sebuah ekosistem pendidikan atlet kini berdiri tegak sebagai kawah candradimuka bagi talenta muda dari seluruh penjuru nusantara.

​Setiap Jumat, suasana asrama Cirebon United terasa berbeda. Hari itu dikhususkan untuk membedah filosofi. Namanya materi DNA Cirebon United. Para siswa tidak menyentuh bola di sesi ini. Mereka duduk. Mereka mendengarkan. Mereka berdiskusi secara mendalam.

Materi ini mendalami esensi sepak bola. Bahwa bermain bola adalah urusan otak. Bukan sekedar passing atau shooting. Di dalamnya ada pemahaman ruang. Ada kalkulasi waktu. Ada pengambilan keputusan cepat di bawah tekanan. DNA ini yang ditanamkan ke dalam saraf para siswa agar mereka tidak hanya menjadi pemain, tapi menjadi pemikir di lapangan.

Kepala SMP Cirebon United, Muhamad Sayidil Ayamin MPd, menjelaskan struktur pendidikan di sana. Polanya terintegrasi secara utuh. Ada tiga pilar utama yang dijalankan. Pertama, diklat sepak bola. Kedua, sekolah formal. Ketiga, pendidikan pesantren bagi siswa muslim.

BACA JUGA: Komunitas Trader Cirebon Bermunculan, OC Strategy Siap Cetak Trader Cuan dari Nol

Siswa yang datang bukan hanya dari lokal Cirebon. Lembaga ini telah menjadi magnet nasional. Saat ini terdapat 45 siswa formal yang menetap di asrama. Rinciannya, 20 siswa jenjang SMP dan 25 siswa jenjang SMA. Mereka datang dari berbagai pulau. Ada yang dari Sumatera. Ada dari NTB. Ada juga dari Papua.

Secara keseluruhan, peserta diklat jauh lebih banyak. Totalnya mencapai 120 siswa. Rentang usianya mulai dari 7 tahun hingga 18 tahun. Mereka ditempa dalam satu sistem yang sama. Berlatih secara metodedis dan terukur.

Legalitas lembaga ini sudah kokoh. Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah penting. Izin operasional dari Dinas Pendidikan Kota Cirebon resmi dikantongi. Kini memasuki bulan April 2026, manajemen sedang melakukan persiapan yang matang. Targetnya adalah akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (BAN-PDM).

Ayamin menegaskan bahwa kurikulum di sini bersifat mandiri. Pihaknya meramu sendiri formulanya agar relevan dengan kebutuhan atlet. Terdapat kolaborasi tiga aspek: kurikulum sepak bola, Kurikulum Merdeka secara nasional, dan kurikulum pesantren. Yang ketiganya berjalan beriringan tanpa saling melupakan.

BACA JUGA: Kepsek se-Kota Cirebon Ikuti Kursus Pramuka, Perkuat Peran Pembina di Sekolah

​"Iya betul. Kita membuat kurikulumnya sendiri," ujar Ayamin kepada Radar Cirebon, Jumat (17/4/2026).

​Targetnya sangat jelas. Mereka ingin mencetak atlet yang lengkap. Tangguh secara fisik. Cerdas secara taktik. Berakhlak mulia secara pribadi. Di asrama, penekanannya bukan hanya pada transfer ilmu pengetahuan. Ada transfer nilai yang jauh lebih mendasar bagi kehidupan siswa.

​Siswa mengajarkan adab. Mereka dididik memiliki karakter yang kuat. Sikap di luar lapangan menjadi prioritas utama manajemen. Sopan santun dan kedisiplinan dianggap sebagai elemen kunci. Hal ini diyakini sebagai penunjang utama kesuksesan atlet di masa depan agar tidak terlambat sebelum berkembang.

​"Jadi anak-anak di sini mengajarkan sikap, mengajarkan adab, mengajarkan karakter bagaimana menjadi seorang pesepak bola yang tidak hanya tangguh di lapangan, tapi juga mempunyai karakter dan sikap yang baik di luar lapangan," jelas Ayamin.

BACA JUGA: Erick Thohir Targetkan Laga Kelas Dunia untuk Timnas di FIFA Matchday 2026

Kategori :