Bukan Rekayasa! Mentan Beberkan Rahasia Swasembada Beras 2025

Minggu 26-04-2026,04:02 WIB
Reporter : Moh Junaedi
Editor : Yuda Sanjaya

Rata-rata hasil panen padi di Indonesia mencapai 5 juta ton GKP per hektare.

"Kita tanam hanya satu kali menjadi 2 kali karena pomponisasi. Naik lah 1 juta (hektare). Kalau 1 juta (hektare), itu (panen naik) 5 juta ton (GKP)," tutur Amran.

Peningkatan produksi juga diperoleh dari penanaman padi di lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif. 

BACA JUGA:Baznas Kota Cirebon Siapkan 9,4 Ton Beras untuk Amil Pasca Idul Fitri

Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern hingga perbaikan benih turut berperan penting.

"Ada alat mesin pertahanan dan seterusnya. Kemudian ekstensifikasi adalah cetak sawah 200 ribu hektare," ujar Amran.

Kemudian untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah berupaya menyediakan sarana-sarana produksi yang baik. 

Misalnya jaminan ketersediaan pupuk subsidi. Irigasi diperbaiki. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk hasil panen petani dinaikkan.

Dampaknya, biaya produksi yang ditanggung petani turun. Petani jadi lebih semangat menanam. Hasil panen lebih melimpah dan harga jual lebih baik.

"Sarana produksi baik. (Harga) Pupuknya dikurangi 20 persen. Irigasinya kita perbaiki. Pompanisasi."

"Kemudian HPP-nya kita naikkan. Petani bersorak dan menikmati ini. Seluruh Indonesia, 115 juta keluarga petani. Kesejahteraannya lebih baik. Tentu daya belinya naik," papar Amran.

BACA JUGA:Inflasi Cirebon Turun, Tapi Harga Beras hingga Telur Masih Naik, Ini Penyebab Utamanya

Hasilnya, menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai rekor tertinggi sebesar 125,45 pada Februari 2026. 

"Ini kata BPS, bisa dicek. Kalau data saya bisa subjektif. Tapi ini data BPS," ucapnya.

Stok cadangan beras pemerintah (CBP) pun menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. 

Amran mempersilakan para pengamat yang tidak percaya untuk mengecek sendiri ke gudang-gudang beras di seluruh Indonesia. 

Kategori :