GUDREG

Jumat 05-06-2026,15:20 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Tatang Rusmanta

Saya sendiri bagian dari itu. Saya ditempa meski tanpa model kepahlawanan lama di kepala. Rawe-rawe rantas, malang-malang tak putung. Wingi wani, kien wani, sukiki ya wani. Padang wani, peteng ya wani. Jembar wani, lurung ya wani. Saya menjadi bagian dari kegudregan yang terus diwariskan antargenerasi. Mungkin karena manusia pesisir memang tumbuh bersama angin yang keras, cuaca yang mudah berubah, juga sejarah panjang tentang perebutan dan pertahanan. Ada naluri untuk selalu siap bertarung, bahkan ketika yang datang sebenarnya hanya balon-balon di udara.

Tapi saya menolak menjadi Don Quixote. Betapa absurd menghabiskan hidup dengan menyerbu kincir angin sambil merasa sedang menyelamatkan sebuah peradaban. Dunia sudah terlalu rumit untuk terus dilihat sebagai arena duel antara pahlawan dan musuh-musuh imajinernya. Ada terlalu banyak manusia yang diam-diam bekerja tanpa gudreg, terlalu banyak hal besar yang lahir dari percakapan kecil, juga dari kerja kolektif yang bahkan tak pernah tercatat sejarah.

Di luar sana, kota-kota saling berlomba menjadi kreatif, terbuka, dan kolaboratif. Mereka, meminjan istilah Ben Anderson, membayangkan sebuah kota sebagai rumah bersama. Mereka tak jadi “wayang kandang”. Tak sibuk berputar-putar di lingkaran kecilnya sendiri sambil merasa paling besar di antara lorong dan tembok yang sebenarnya itu-itu juga. Dunia bergerak terlalu cepat untuk terus dipenuhi manusia yang memperebutkan pengaruh lokal kecil-kecilan, sementara kota-kota lain sibuk membangun jejaring, pengetahuan, kreasi, teknologi, juga kemungkinan masa depan.

Mestinya usia membuat manusia perlahan mengerti bahwa dunia tidak selalu perlu ditaklukkan. Kita juga bisa mulai menyadari bahwa sebagian besar gudreg ternyata tumbuh dari tempat yang paling sunyi: keinginan untuk diakui, ketakutan untuk menjadi kecil, juga hasrat agar nama kita tinggal sedikit lebih lama di ingatan orang lain. Waktu lalu berjalan pelan seperti air laut mengikis karang—diam, tetapi mengubah banyak hal. Hingga ada suatu masa dimana kalimat Rumi tidak lagi terdengar sebagai petuah, melainkan suara lirih yang datang dari dalam diri sendiri: “Kemarin aku cerdas, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku sendiri”. Cirebon tak butuh Don Quixote.

Kategori :