Oleh: Fathan Mubarak
Penyair, tinggal di Cirebon
DI Jepang, orang menyebutnya hikikomori. Ini terjadi pada dekade 1990-an ketika ribuan anak muda Jepang menghilang. Dunia luar terlalu bising dan melelahkan. Mereka menarik diri ke kamar-kamar sempit bersama lampu monitor, mi instan, dan waktu yang berantakan. Hari-hari berlalu—berbulan, bahkan tahun, tanpa penanda selain bunyi notifikasi dan pergantian musim di balik jendela yang jarang dibuka.
Beberapa saat sebelum istilah hikikomori populer, sastrawan Haruki Murakami menulis Norwegian Wood yang kelak menjadi salah satu karya sastra Jepang modern paling berpengaruh. Berbeda dari mislnya Kafka on the Shore atau The Wind Up Bird Chronicle yang surealis dan penuh elemen absurd, Norwegian Wood relatif realistis, intim, dan melankolis. Judul novel ini bahkan diambil dari lagu The Beatles: Norwegian Wood (This Bird Has Flown).
Menggunakan latar Jepang akhir 1960-an nyaris selalu berarti mengetengahkan pergolakan: pembangunan, demonstrasi mahasiswa, perubahan budaya, juga tentu saja kegelisahan generasi muda pascaperang. Namun Murakami tidak begitu menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa besar. Ia lebih tertarik pada kesunyian manusia di tengah dunia yang berubah cepat. Atmosfer Norwegian Wood begitu Murakami: kamar asrama kecil, hujan Tokyo, musik jazz, percakapan panjang, jalan kaki malam hari, dan tokoh-tokoh yang tampak tenang tetapi retak di dalam.
Murakami menangkap lebih awal kesepian generasi modern Jepang. Tokoh-tokohnya hidup dalam suasana sunyi yang aneh. Ada depresi, juga perasaan asing terhadap dunia yang tak pernah benar-benar terjelaskan. Murakami memahami bahwa manusia modern kadang tidak hancur oleh perang atau bencana alam, melainkan oleh kesunyian panjang yang menguat diam-diam. Dalam percakapannya dengan Midori Kobayashi, Toru Watanabe—tokoh utama yang seorang mahasiswa sastra, mengatakan sesuatu yang dingin dan sederhana: “I don't go out of my way to make friends, that's all. It just leads to disappointment.”
BACA JUGA:GUDREG
BACA JUGA:11 Rumah Eks Bupati Cirebon Dilelang KPK, Mulai dari 400 Jutaan
Kalimat itu terdengar seperti bisikan panjang dari zaman yang lelah dan kecewa. Siang dan malam kehilangan batasnya. Lalu kesunyian, yang mula-mula terasa seperti luka, perlahan berubah menjadi satu-satunya tempat yang tidak menghakimi mereka.
Tapi hikikomori bukan hanya soal Jepang. Ia semacam gejala peradaban. Pada awal paruh kedua abad sembilan belas di Amherst, Massachusetts, penyair Emily Dickinson perlahan mengasingkan diri dari dunia luar. Ia, meminjam istilah yang berkembang dalam diskursus seni rupa dan kritik sastra di Prancis, menjadi semacam hikikomori avant la lettre: hidup dalam kamar sunyi, berbicara kepada tamu dari balik pintu, lalu menulis puisi-puisi yang terasa seperti percakapan panjang dengan kesendirian itu sendiri. Emily menjadi paradoks indah sekaligus getir. Kita tahu, semakin ia menjauh dari dunia sosial, semakin luas dunia batin yang ia bangun melalui puisi. Jiwa memilih sirkelnya sendiri, kata Emily. Kemudian, “shuts the Door!”
Eropa juga mengalaminya. Gejala hikikomori semakin banyak dibicarakan sejak awal 2000-an, terutama setelah krisis ekonomi, ledakan internet, dan pandemi. Istilah hikikomori sering dipakai begitu saja. Para peneliti Barat seperti tak menemukan kosakata yang menjelaskan bentuk keterasingan itu. Di Itali, misalnya, muncul komunitas dan organisasi seperti Hikikomori Italia yang mendampingi keluarga para pengidap isolasi sosial ekstrem. Banyak kasus muncul dari kombinasi tekanan akademik, kecemasan sosial, juga dunia digital yang mulai menggantikan relasi nyata.
Para sosiolog di Prancis dan Spanyol mulai melihat hikikomori sebagai bagian dari krisis modernitas Eropa. Generasi muda hidup di tengah ketidakpastian ekonomi, pekerjaan kontrak, kesepian urban, dan relasi sosial yang makin membingungkan. Dunia kian terkoneksi tetapi terasa rapuh secara emosi. Berbeda dari Jepang yang terkait budaya malu ditengah tuntutan sosial yang ketat, hikikomori di Eropa lebih berkolerasi dengan individualisme ekstrem, kecemasan psikologis, alienasi digital, dan juga mangmung.
BACA JUGA:Masa Pensiun Tetap Bisa Produktif dan Bermakna Bersama Bank Mandiri Taspen
BACA JUGA:Hadapi Tekanan Geopolitik, Pertamina Perkuat Sistem Mitigasi Risiko Terintegrasi
Sastra dan filsafat Eropa sebenarnya memiliki bayangan tentang hikikomori bahkan sebelum istilah itu ada. Di Petersburg yang dingin, Underground Man ciptaan Fyodor Dostoevsky bersembunyi dari dunia. Ia sinis, terasing, penuh kebencian pada masyarakat sekaligus pada dirinya sendiri. Ada juga Gregor Samsa karya Franz Kafka yang suatu pagi bangun sebagai serangga raksasa. Ini menjadi salah satu metafora paling brutal tentang keterasingan modern. Manusia tiba pada keadaan merasa tak lagi dikenali. Tubuhnya eksis, tetapi keberadaannya seperti kesalahan administrasi kosmik.