Di Asia Tenggara, tidak pernah terjadi penyebaran faham dengan peperangan. Karenanya hal itu dianggap mengganggu harmoni, tatanan kerukunan dan kedamaian serta kehidupan perdagangan yang sudah ada sekian lama.
Karenanya, masyarakat Jazirah Maluku yang dipimpin sultan Baabullah, mengusirnya hingga terdampar di daerah gersang, Timor Timur, karena Portugis secara kejam memenggal sultan Khairun di dalam bentengnya. Begitu juga masyarakat Banten yang dipimpin sultan Ageng Tirtayasa tahun 1596 menggempur pasukan asing Belanda yang dipimpin Cornelis De Houtman yang terkenal kejam itu.
Tragisnya, pada 11 September 1599 dalam pelariannya dari Banten, tepatnya di selat Malaka, harus mengalami kenyataan pahit, tewas ditangan Laksamana Malahayati, putri Aceh yang legendaris itu, yang memimpin 2.000 pasukan laut kesultanan Aceh. Tidak berlebihan, walaupun di jajah ratusan tahun, masyarakat Nusantara yang faham akan sejarah bangsanya dengan utuh, secara umum tidak mau merubah keyakinannya.
Pendiri kota Jakarta sebagai Ibukota Indonesia bernama asli Fadillah Khan. Masyarakat Banten menyebutnya Tubagus Pasai (karena memang lahir di Pasai – Aceh). Masyarakat Cirebon memanggilnya Ki Fadillah. Setelah memimpin armada gabungan Demak dan Cirebon sejumlah 1452 orang mengusir Penjajah Portugis, beliau diberi gelar Fatahillah. Orang Portugis memanggilnya Faletehan.
BACA JUGA:Rekomendasi Mobil Jepang Tipe Sedan Bekas Harga 40 Jutaan, Cocok untuk Harian hingga Perjalanan Jauh
Setelah meletakkan pondasi kebaikan bagi Jayakarta, Fatahillah kemudian dipanggil sunan Gunung Jati, mertuanya, untuk kembali ke Cirebon . Fatahillah yang menikah dengan Ratu Wulung Ayu (putri Sunan Gunung Jati) kemudian diangkat sebagai penasehat sultan II kesultanan Cirebon Yaitu, sultan pangeran Muhamad Arifin yang bergelar pangeran Pasarean, karena saat dinobatkan, pangerann Muhamad Arifin masih sangat muda.
Kala Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) wafat tahun 1568, lalu dimakamkan di komplek pertamanan Gunung Sembung pada usia 120 tahun, dua tahun kemudian, menyusul pula menantu yang dikasihi dan dihormati, Fatahillah wafat.
Makam Dwi tunggal penyebaran Islam di Jawa bagian barat ini berdampingan dan tidak diperantai oleh apapun di komplek pemakaman pertamanan Gunung Sembung, sebelah barat komplek pemakaman Gunung Jati – Cirebon. Jadi, bukti makam Fatahillah yang berdampingan dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di komplek makam pertamanan Gunung Sembung (sebelah Barat Gunung Jati) meruntuhkan teori bahwa, Fatahillah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) adalah satu jiwa.
Beliau adalah dua jiwa yang berbeda yang saling mengisi dan melengkapi dalam menjalankan tugas menyebarkan Islam di Jawa bagian Barat. Sembilan Visi Jakarta yang diinginkan oleh Fatahillah bisa kita lihat dalam gambar bendera segi lima kesultanan Jayakarta yang sangat luar biasa visioner.
Aceh, bukan hanya menyumbangkan dua buah pesawat terbang generasi awal bernama Seulawah 1 dan Seulawah 2, disaat Indonesia era 45 masih belum punya apa-apa. Tapi juga, putra terbaiknya yakni Fatahillah, mendirikan Ibukota Negara kesatuan Republik Indonesia Jakarta, pada 22 Juni 1527. Detak jantung Indonesia era 45 masih terasa dan didengarkan dunia Internasional walau Soekarno telah menyerah dan ditawan oleh penjajah Belanda, berkat radio “Rimba Raya” yang mengudara dari Aceh.
Dan Monumen Nasional (Monas) kurang anggun bila tanpa 27 Kilogram Emas di puncaknya, pemberian dari Markam, putra Aceh. Adalah Wajar bila Bung Karno dengan mantap dan penuh Izzah, membaca teks Proklamasi pada hari Jum’at Legi pukul 10.00 tanggal 9 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan 17 Agustus 1945 di Jayakarta (kota kemenangan) , yang didirikan oleh seorang ulama, panglima perang sekaligus pembangun negeri, Fatahillah, menantu sunan gunung Jati Cirebon.
Pamungkas
Untuk mengabadikan cita-cita masyarakat pribumi yang gugur sebagai syuhada dalam menentang kolonialisme asing di Nusantara, dibangunlah masjid Asy-Syuhada di Ibukota Negara yang pertama, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.
Mengapa rela sebagai syahid ? karena ingin merdeka. Selanjutnya diibukota yang ke-dua, Jakarta, dibangun pula masjid kemerdekaan, Istiqlal. Di istana Negara dibangun pula masjid Baiturrahim. Siapa yang punya Rahim. Tak lain adalah Ibu. Ar-Rahim pecahan dari Ar-Rahman. Rahmat Allah. Pada Monas dibangun pula patung penunggang kuda yang gagah bersorban putih yang tak lain adalah sultan Abdul Hamid (Pangeran Diponegoro).