BACA JUGA:SMK Maung Jabar Gandeng 26 Perusahaan, Lulusan Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri
Norwegia yang menghentak dengan irama lagu langkah Haaland, atau Swiss yang tenang bagi riak air di Danau Jenewa.
Dan, bigmatch pertama dini hari nanti WIB, Prancis dan Spanyol adalah jaminan (bahkan kepastian) menjadi partai klasik.
Reputasi mereka bukan kaleng-kaleng yang berisik tanpa isi. Pertemuan terakhir mereka di semifinal UEFA Nation League (UNL) 2025 yang meninggalkan epik dendam mendalam bagi Prancis yang kalah tipis 4-5, setelah hampir saja come back dari skor 1-5.
Drama 9 gol yang bakal jadi tema tersembunyi untuk pergelaran Kylian Mbappe cs melawan Lamine Yamal dkk, apalagi jika mempertimbangan tajuknya lebih bergengsi, ini semifinal Piala Dunia, bukan “sekadar” final UEFA Nation League, kompetisi akal-akalan untuk fasilitas panggung kelas medioker.
BACA JUGA:Geger! Menantu Bacok Mertua di Kuningan, Kerabat Istri Ikut Terluka Akibat Amukan Golok
Dan yang menegangkan, arsitek kedua belah tim saat ini masih sama dengan tahun lalu. Didier Deschamps dan Luis de la Fuente, dua lelaki perlente kharismatik.
Mereka berdua pantas dan layak distempel sebagai pelatih generasi emas terbaru di samping Lionel Scaloni, Joachim Loew, Carlo Ancelotti atau Zlatko Dalic.
Tapi sebenarnya, cerita Prancis versus Spanyol ini adalah panggung penentuan untuk Kylian Mbappe dan Lamine Yamal.
Mbappe yang pada awal kariernya digadang-gadang sebagai Pele baru, dan Yamal yang disebut-sebut sebagai Messi Merah.
Dunia sudah melihat kematangan Mbappe saat ditarget-operasikan 5 pemain Paraguay yang bermain dengan tangan, sikut dan badannya untuk menghimpit, menekel, menjatuhkan dan menjegalnya. Namun, Mbappe tetap cool dan tidak terpancing.
Banyak yang menganggapnya tidak punya nyali seperti Erling Haaland, tapi tidak sedikit menilainya sebagai satu sikap entertainment dari seorang olahragawan profesional.
Sedangkan Yamal, yang konon kebanjiran order komersial dari brand penyokong FIFA dan World Cup, terlihat lebih berusaha menjaga citra sebagai pemain masa depan yang bisa berkarir di 6 atau 7 kali piala dunia dengan syarat kakinya masih utuh sampai tahun 2050.
Selain Yamal, si gondrong Marc Cucurella yang gimbal rambutnya, mengingatkan publik kepada seniornya Carlos Puyol, menarik ditunggu dini hari nanti WIB.
Sedangkan kabar tidak adanya badai cedera di kubu Prancis, tim terkonsisten dalam 8 tahun terakhir, malah menghambat pasar taruhan internasional.
Dari semula menjagokan Prancis setengah gol menjadi voor sepertempat. Artinya, walaupun Ousmane Dembele dan Mbappe tidak seperti dikabarkan bagai Cristiano Ronaldo, kita diminta tidak serampangan menjagokan Prancis kendati ini adalah semifinal hattrick bagi tim Ayam Jantan –sebutan Prancis- dengan pelatih yang sama sejak tahun 2018 (juara) dan tahun 2022 (runner up).