CIREBON, RADARCIREBON.COM - Ancaman radikalisme kini menyasar pelajar. Ruang ini tak pernah disangka. Polanya, melalui layar ponsel anak-anak.
Di Kabupaten Cirebon sejumlah siswa terindikasi terpapar paham radikalisme.
Diduga bermula dari game online. Kekerasan dan permusuhan terhadap aparat negara. Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon pun langsung mengambil langkah antisipasi.
BACA JUGA:Delapan Desa Siaga di Cirebon Bertransformasi, Bioflok Lele Jadi Senjata Baru Cegah Radikalisme
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, Ronianto SPd MM mengaku, pihaknya menerima informasi dari Densus 88 Anti Teror terkait adanya indikasi paparan paham radikalisme terhadap sejumlah siswa di Kabupaten Cirebon.
"Kami mendapatkan informasi dari Densus 88 Anti Teror yang menyampaikan ada sejumlah siswa yang terindikasi terpapar paham radikalisme. Paham ini berawal dari kebiasaan anak-anak bermain game di ponsel," ujar Ronianto saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 29 Juli 2026.
Menurut Roni --sapaan akrabnya, game online itu mengusung tema penggunaan senjata dengan sasaran aparat negara.
Kondisi itu dikhawatirkan dapat membentuk pola pikir negatif terhadap aparat dan menanamkan sikap permusuhan sejak usia dini.
"Anak-anak dikhawatirkan mulai belajar memusuhi aparat negara dari permainan-permainan tersebut. Ini yang harus diantisipasi bersama," katanya.
BACA JUGA:Kodim 0614/Kota Cirebon Gelar Komunikasi Sosial Cegah Tangkal Radikalisme dan Separatisme
Ia menyampaikan, sebagai langkah antisipasi, Roni menegaskan larangan membawa handphone ke sekolah. Kebijakan itu diberlakukan untuk seluruh siswa, kecuali jika telepon genggam memang diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar.
"Kalau memang dibutuhkan untuk pembelajaran, tentu diperbolehkan. Tetapi jika tidak ada kebutuhan belajar, maka anak-anak tidak diperkenankan membawa handphone ke sekolah," tegasnya.
Tak hanya di lingkungan sekolah, pengawasan di rumah juga menjadi perhatian serius. Roni menilai, peran orang tua sangat menentukan dalam mencegah anak terpapar konten maupun permainan yang mengandung unsur radikalisme.
Ia pun mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan anak bermain handphone tanpa pengawasan, terlebih dalam waktu yang cukup lama.
"Kami juga menggandeng orang tua. Jangan sampai anak-anak dibiarkan bermain handphone berjam-jam, apalagi memainkan game yang bisa memberikan pengaruh buruk terhadap pola pikir mereka," tandasnya.