KUNINGAN – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kuningan menggelar aksi turun jalan di depan pendopo setda, Senin (20/10). Aksi tersebut merupakan bentuk refleksi kepemimpinan pasangan Hj Utje Ch Suganda-H Acep Purnama (Utama) selama setahun. PMII menilai kinerja bupati selama ini gagal memimpin Kuningan. “Kinerja pemerintah Kuningan yang sudah satu tahun ini tidak ada dampak konkret sedikit pun untuk kesejateraan rakyat. Jadi, kami menilai bupati telah gagal,” tandas Ketua PMII Kuningan, Aof Ahmad Musyafa saat berorasi. Unjuk rasa dengan pengawalan ketat dari petugas Polres Kuningan yang dikomandani kasat Sabhara, itu diwarnai aksi membaca surat Yasin. Namun, aksi mereka itu tidak mendapatkan respons dari pejabat di lingkungan Pemkab Kuningan. Meski begitu para mahasiswa terus melakukan orasi. Aof menegaskan, bupati dan Pemkab Kuningan dinilai gagal dalam mewujudkan tata kelola sumber daya alam. Bupati juga gagal dalam memediasi konflik antara petani hutan dengan pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang mengakibatkan kerugian besar di pihak petani. Aof mengatakan, pemerintah wajib memrioritaskan kepentingan rakyat. Karena Kuningan merupakan kabupaten yang sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya dari hutan dan pertanian. Apalagi, sebagian besar akses kehidupan masyarakat bergantung pada alam dan hutan. Akibat dari sebuah konsensi pemerintah Kuningan dan TNGC, akses terhadap hutan menjadi hal yang sangat mahal bagi petani hutan. Ini menjadi sebuah hal yang sangat kontradiktif. Karena hutan yang mestinya diasosiasikan untuk kesejahteraan rakyat, sekarang menjadi lahan tidur yang tak terjamah oleh masyarakat. \"Akibat dari hal itu, kemiskikan sistemik menjadi sebuah keniscayaan bagi masyarakat lereng Gunung Ciremai,” lanjutnya. Kinerja pemerintah Kuningan yang diukur dalam satu tahun ini, kata Aof, terkesan hanya diam di tempat dan tertatih-tatih menyelesaikan masalah-masalah di Kuningan. Oleh sebab itu, pihaknya mengecam pemerintah yang tidak bisa bekerja dan tidak mampu mengimplementasikan visi misi Kuningan yang mandiri agamis sejahtera (MAS). “Kontradiksi antara visi dan kenyataan ini adalah sebuah pembodohan masal bagi kami dan masyarakat Kuningan. Dalam hal ini, salah satu ketidakjelasan pemerintah dalam menyelesaikan konflik agraria di lereng Ciremai,” jelasnya. Lebih jauh, Aof juga menyebut bahwa pemerintah dengan PDAU-nya telah gagal mengelola air di Kabupaten Kuningan. Hal itu terlihat dari kondisi di wilayah Jalaksana tepatnya kawasan di sekitar lokasi wisata Balong Dalem, karena bangunan semi permanen yang didirikan berdampak pada berkurangnya daya serap air ke dalam tanah, sehingga sumber air yang ada menjadi berkurang. \"Masyarakat dibuat resah jika daerah itu dilanda hujan yang lebat karena bisa mengakibatkan banjir. Jadi, Kuningan sebagai kabupaten Konservasi hanya retorika politik,\" pungkasnya. (mus)
PMII Soroti Kinerja Setahun Utama
Selasa 21-10-2014,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 29-09-2026,09:19 WIB
Suzuki Ertiga Gen-1 Bekas Masih Layak Dibeli? Simak Kelebihan dan Kekurangannya
Senin 28-09-2026,23:13 WIB
Tanaman Minimalis Ruangan Indoor Ini Cocok untuk Hunian Sempit, Nomor 5 Paling Unik
Selasa 29-09-2026,09:08 WIB
Suzuki Ertiga Bekas vs Avanza dan Xpander, Ini Kelebihan dan Kekurangannya
Senin 28-09-2026,20:34 WIB
Kalapas Kuningan Tegaskan Tak Ada Kamar Mewah di Lapas, Ini Aturan Baru Kunjungan Warga Binaan
Senin 28-09-2026,23:57 WIB
Tanaman Minimalis Ruangan Indoor Ini Cocok untuk Rumah Sempit, Cantik dan Tidak Bikin Sumpek
Terkini
Selasa 29-09-2026,19:01 WIB
6.199 Kasus TBC Mengintai Cirebon, 15 Motor Listrik Dikerahkan untuk Kejar Pasien di Lapangan
Selasa 29-09-2026,18:29 WIB
Kasus Suspek Influenza A di Kuningan Naik September 2026, Pasien Anak Paling Banyak
Selasa 29-09-2026,18:00 WIB
Pengajian DWP Kota Cirebon Angkat Peran Muslimah dalam Keluarga
Selasa 29-09-2026,17:30 WIB
Ramalan Zodiak Leo, Scorpio, dan Aquarius Minggu Ini: Saatnya Atur Energi, Fokus, dan Hubungan
Selasa 29-09-2026,17:00 WIB