Armada kendaraan kecil yang melayani wisatawan juga tidak akan langsung disiapkan dalam jumlah besar.
Pemerintah akan menyesuaikan jumlah kendaraan dengan kebutuhan serta perkembangan jumlah kunjungan wisatawan.
“Nanti diupayakan sesuai dengan kebutuhan,” ungkap Nurdijanto.
Langkah tersebut dilakukan agar pengelolaan transportasi tidak berlebihan dan dapat mengikuti pola pergerakan wisatawan di lapangan.
Pengelolaan Terminal Butuh Kolaborasi
Camat Pasawahan Asep Dudi Royadi menilai pengoperasian kembali Terminal Wisata Paniis membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pengelola destinasi wisata, serta Dishub perlu duduk bersama untuk menyusun pola pengelolaan yang efektif.
Menurut Asep, pembahasan lanjutan dibutuhkan untuk menyatukan persepsi mengenai fungsi terminal, mekanisme pelayanan wisatawan, hingga konektivitas menuju berbagai destinasi wisata di kawasan Pasawahan.
“Ini kolaborasi. Desa-desa mendukung, pengelola wisata juga mendukung. Tinggal pemantapan antara kami, desa, kemudian khususnya Dishub untuk menyatukan persepsi,” katanya.
Terminal Paniis Didorong Perkuat Ekonomi Wisata
Optimalisasi Terminal Wisata Paniis diharapkan tidak berhenti pada penataan arus kendaraan.
Keberadaan terminal juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem pariwisata di Kecamatan Pasawahan.
Pengoperasian kembali terminal dan penguatan program GEMPAR diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Melalui pola transit tersebut, bus berukuran besar tidak perlu masuk ke seluruh jalur wisata yang memiliki keterbatasan kapasitas.
Di sisi lain, masyarakat lokal dapat mengambil peran dalam rantai pariwisata, mulai dari menyediakan kendaraan pengumpan, usaha kuliner, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Dengan demikian, Terminal Wisata Paniis tidak hanya menjadi tempat berhenti bus wisata.