PSS-PSIS Sama-sama Bungkam JAKARTA - PSS Sleman dan PSIS Semarang sudah resmi didiskualifikasi dari babak semifinal Divisi Utama 2014. Itu didapatkan setelah Komisi Disiplin (Komdis) PSSI memanggil semua perwakilan kedua belah pihak dalam agenda sidang di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, hingga tadi malam. Namun, hingga berakhirnya proses persidangan, baik pemain ataupun ofisial dari kedua belah pihak seolah sepakat untuk bungkam terkait dengan akar persoalan di balik sepak bola gajah itu. Keduanya sama-sama menyangkal bahwa sudah ada instruksi kepada pemainnya agar mencetak gol bunuh diri. Walaupun, sejak sebelum pertandingan, banyak pihak yang menyebut isu bakal ada salah satu klub yang mengalah dalam laga di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU), Sleman, Jogjakarta, Minggu sore lalu (26/10). Termasuk isu yang menyebutkan PSS melakukan gol bunuh diri. Apalagi, apabila dirunut dari kronologi pertandingan, kejanggalan sudah ada begitu head coach PSS, Herry Kiswanto meninggalkann bench lebih awal. Tepatnya pada menit ke-80-an. Padahal, secara aturan tidak diperbolehkan pelatih meninggalkan bench lebih awal kecuali mendapatkan kartu merah dari wasit. Nyatanya, setelah itu, pertandingan menjadi kacau. Termasuk dengan pergantian penjaga gawang dari Gratheo Hadi Witama ke Riyono beberapa menit setelahnya. Yang kemudian diikuti gol bunuh diri pertama PSS yang dicetak Hermawan Putra Jati pada menit ke-86. Setelahnya lalu berntun empat gol bunuh diri tercipta. Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Supardjiono yang membawahi PSS Sleman saat diwawancarai menolak jika dua gol yang dibuat anak asuhnya sudah di-setting sejak awal. \"Sebaliknya, pemain kami tidak sengaja melakukannya. Lihat saja, semua gol bunuh diri kami berasal dari sudut sempit,\" kilahnya. Pardji -sapaan akrabnya- malah meminta semua pihak melihat dulu bagaimana permainan tim lawannya. Karena, PSIS, menurut dia, bermain tidak selayaknya klub menginginkan juara grup. Permainan klub berjuluk Mahesa Jenar yang defensive ditudingnya sebagai pemicu tindakan dari pemainnya. \"Kalau mereka bermain dengan sungguhan, ya kami ladeni juga dengan sungguhan. Lihat saja tim itu mencetak tiga gol bunuh diri ke gawang kami,\" keluh pria yang juga menjabat sebagai Manajer Tim PSS itu. \"Kalau kami dibilang menghindari Borneo, itu sama sekali tidak benar. Kami tidak takut dengan siapapun,\" lanjutnya. Terkait dengan sikap pelatihnya yang meninggalkan bench di tengah-tengah jalannya laga babak kedua, Pardji menolak jika dikatakan Herkis -sapaan akrab Herry Kiswanto- tidak kembali lagi di bench. \"Dia hanya minta izin ke toilet sebentar, setelah itu ya kembali lagi sampai dengan laga usai,\" cetusnya. Terpisah, General Manager (GM) PSIS, Chairul Anwar menyebut sumbu persoalan dari tindakan anak asuhnya adalah dua gol bunuh diri PSS. Dua gol itu yang menyulut emosi anak asuhnya yang merasa tidak dihargai ketika datang dengan keinginan bermain di kandang PSS. Chairul pun menegaskan timnya tidak jauh berbeda saat menang di kandang Persiwa Wamena, beberapa waktu yang lalu. \"Pemain kami terprovokasi. Selain dua gol bunuh diri, lalu teriakan pendukung PSS yang provokatif (dengan mengucapkan: Syukur kalian ketemu Borneo, red), ditambah dengan kondisi lapangan yang hancur seperti itu, ya pemain langsung emosi dan tidak berpikir panjang membuat gol-gol bunuh diri,\" bebernya. Logika Chairul, jika klubnya memilih untuk kalah, timnya tidak akan mendatangi pertandinhan di Sleman teersebut. Status walk over (WO) dianggapnya bukan masalah. \"Toh kalau WO kami hanya dikurangi tiga poin, dan itu tidak akan mengurangi peluang kami untuk melenggang ke semifinal,\" tegasnya. Salah satu aktor pencetak gol PSIS Semarang Komaedi menuturkan jika dalam laga tersebut, dirinya seperti kehilangan rasa sadarnya. Yang ada, hanya perasaan emosi karena keseriusan timnya, dibalas dengan permainan tidak niat dari PSS. \"Nggak mikir apa-apa Mas, isinya cuma emosi. Kami pengen main bener, lawan nggak serius, mereka main-main. Ya, karena itu akhirnya kami begini,” katanya saat ditemui di PSSI. Namun, setelah laga itu, pemain bernomor punggung 19 tersebut sempat berpikir akan anehnya permainan di hari itu. Keesokan harinya dia baru merasakan besarnya imbas akibat permainan sepak bola gajah. “Saya juga sempat dapat SMS dari suporter, dihujat perbuatan saya,” ucapnya. (ren/aam)
Kompak Hanya Spontan
Rabu 29-10-2014,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 13-03-2026,23:29 WIB
Curanmor di Palimanan Terekam CCTV, Motor Karyawan Rumah Makan Raib dalam Hitungan Detik
Sabtu 14-03-2026,03:01 WIB
Curanmor di Jagasatru Cirebon, Skuter Metic Milik Warga Raib dari Halaman Rumah
Sabtu 14-03-2026,02:01 WIB
Arus Mudik 2026 Mulai Terlihat di Pantura Cirebon, Kendaraan dari Jakarta Menuju Jateng Meningkat
Sabtu 14-03-2026,03:31 WIB
Jelang Mudik Lebaran 2026, Polres Cirebon Kota Ingatkan Warga Waspada Pencurian Rumah Kosong
Sabtu 14-03-2026,15:03 WIB
Kecelakaan Tol Cipali Hari Ini, Dua Lakalantas Akibat Sopir Mengantuk
Terkini
Sabtu 14-03-2026,21:03 WIB
PDIP Kabupaten Cirebon Konsolidasi di Susukanlebak, Dorong Kader Jadi Pionir Kedaulatan Pangan
Sabtu 14-03-2026,20:02 WIB
Heboh! Pria Lansia Ditemukan Meninggal di Trotoar Lampu Merah Rajawali Cirebon
Sabtu 14-03-2026,20:01 WIB
Dibalik Safari Ramadan KDM di Kuningan, Puluhan Jamaah Jadi Korban Pencopetan
Sabtu 14-03-2026,19:00 WIB
Pemain Sinetron 'Istiqomah Cinta' Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak-anak Panti Asuhan
Sabtu 14-03-2026,18:03 WIB