Rekontruksi Kasus Anggaran Keaksaraan Fungsional SUMBER – Kejaksaan Negeri Sumber menggelar rekonstruksi kasus penyalahgunaan anggaran keaksaraan fungsional, Selasa (14/4). Empat tersangka yakni NN, ZN, KS dan GM dihadirkan dalam proses rekonstruksi yang berlangsung di sekitar kantor kejari. Isak tangis keluarga salah satu tersangka pecah saat rekonstruksi berlangsung di sekitar kantor kejari. Saat empat tersangka diberikan waktu untuk menunaikan salat Duhur, tiba-tiba keluarga NN yang notabene koordinator penyelenggaraan anggaran keaksaraan fungsional menghadang di parkiran belakang kantor Adhyaksa. Tiga orang anggota keluarga langsung memeluk erat tersangka, sembari menangis tersedu-sedu. Petugas Kejaksaan Negeri Sumber membiarkan bebrapa menit, tidak mencegah tindakan keluarga tersangka. Setelah salat berjamaah, keempat tersangka digiring kembali memasuki aula Kejaksaan Negeri Sumber untuk melanjutkan proses rekonstruksi yang menghabiskan 17 adegan. Kepala Kejaksaan Negeri Sumber, Dedie Tri Hariyadi SH MH dalam konferensi persnya mengatakan, rekonstruksi ini untuk memvisualisasikan tindak pidana korupsi yang dilakukan para tersangka. Sehingga penyelidik memiliki gambaran detail proses awal pemotongan sampai diserahkannya anggaran pemerintah yang disalahgunakan kepada koordinator yang notabene salah satu pengurus DMI Provinsi Jawa Barat. “Rekonstruksi ini berdasarkan keterangan saksi dan tersangka, mulai dari penyerahan dari sanggar kepada anggota yang ada di kabupaten, kemudian diserahkan uang tersebut yang sudah terkumpul kepada perwakilan anggota yang ditugaskan dari provinsi. Jumlah uangnya, sebanyak Rp504 juta,” katanya. Dalam kasus ini, dijelaskan Dedie, nilai kerugian negara mencapai Rp1,260 miliar. Sementara yang sudah berhasil disita Kejaksaan Negeri Sumber sebesar Rp853 juta. “Sisanya sedang kita upayakan yang bersangkutan untuk mengembalikan. Karena ada 11 sanggar yang belum mengembalikan,” jelasnya. Dedi melanjutkan, praktik para sanggar menerima anggaran keaksaraan fungsional dari Disdik Provinsi Jawa Barat hanya Rp2-3 juta. Uang tersebut tidak semuanya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dalam upaya memberantas buta aksara. Jutsru mereka baru sadar, setelah ada proses penyelidikan dan penyidikan. “Oh, ternyata yang diberikan oknum pengurus DMI Kabupaten Cirebon ini merupakan uang yang seharusnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” imbuhnya menirukan penerima anggaran. Sampai dengan saat ini, kejaksaan akan terus melakukan upaya proses hukum. Dari 4 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, kemungkinan akan bertambah 1 lagi. sementara empat tersangka saat ini ditahan di Rutan Klas 1 (Benteng) Cirebon selama 20 hari sejak 31 Maret-19 April 2015. “Kita masih periksa saksi. Tapi, belum diterbitkan administrasinya,” pungkasnya. (jun)
Air Mata Keluarga Tersangka Pecah
Rabu 15-04-2015,10:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 01-11-2026,18:30 WIB
Klasemen Moto3 2026 Terbaru Usai Veda Ega Pratama Runner Up di Malaysia
Minggu 01-11-2026,15:01 WIB
5 Rekomendasi Mobil Bekas Murah untuk Keluarga, Kabin Lega, Harga Terjangkau Gak Sampe 100 Jutaan Atas
Minggu 01-11-2026,12:37 WIB
FIFA ASEAN Cup 2026 Masih Berbuntut, FAM Terus Kejar Kejelasan Tambahan Waktu Indonesia vs Bangladesh
Minggu 01-11-2026,18:06 WIB
Viral Video Pasien di Teras Puskesmas Bantarujeg, Dinkes Majalengka Buka Suara
Minggu 01-11-2026,17:41 WIB
Hasil Persib vs Isenmulang Kalteng FC BRI Super League 2026: Menalo Ganas, Persib Gilas Isenmulang 4-0!
Terkini
Senin 02-11-2026,10:31 WIB
Tanda-tanda Perang Dunia III Kian Menguat, 3 Konflik Besar Ini Berpotensi Memicu Krisis Global
Senin 02-11-2026,10:00 WIB
Selly Soroti Biaya Istitha'ah Haji Tembus Rp5 Juta, Minta Inspektorat Turun Tangan
Senin 02-11-2026,09:30 WIB
Dijuluki Haaland Indonesia, Mitchell Baker Ternyata Punya Mimpi Besar di Liga Inggris
Senin 02-11-2026,09:13 WIB
Calvin Verdonk Impresif, Lille Naik ke Posisi Kedua, Ole Romeny Justru ‘Dikorbankan’
Senin 02-11-2026,09:02 WIB