INDRAMAYU- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, menyambut baik adanya program EMAS (Expanding Maternal Neonatal Survival) yang digulirkan oleh Kementerian Kesehatan. Program tersebut sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang selama ini terus meningkat. Bahkan, sudah menjadi momok penakutkan bagi masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan, dr H Dedi Rohendi MARS menjelaskan, AKI dan AKB di Indramayu memang cukup mencengangkan bagi dunia kesehatan di Jawa Barat (Jabar). Sebab, daerah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani itu masuk dalam peringkat ketiga AKI dan AKB dari 27 kota/kabupaten di Jabar. Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada tim program EMAS dari Provinsi Jabar yang siap melakukan pendampingan dalam proses persalinan di tengah masyarakat. Untuk suksesnya program EMAS, lanjut Dedi, dinkes juga melibatkan semua elemen masyarakat yang tergabung dalam kelompok kerja (pokja) program EMAS di Kabupaten Indramayu. “Program ini tidak akan berjalan dengan baik, tanpa dukungan semua pihak. Mari kita sukseskan program yang satu ini,” jelas Dedi dalam rapat koordinasi dengan pokja proram EMAS dan tim program Emas dari Jabar, Kamis (16/4) di Aula Dinkes Indramayu. Dedi menambahkan, meningkatnya AKB yang terjadi saat ini bukan saja karena pelayanan kesehatan yang lambat kepada pasien, akan tetapi lebih kepada faktor lain. Yakni, kelahiran tidak diinginkan (KTD) oleh masyarakat itu sendiri akibat hubungan bebas sehingga malas untuk memeriksakan kehamilannya. Hal itu sebagai penyebab AKB meningkat. Disamping KTD, kata dia, sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa yang namanya gonta ganti pasangan itu menyebabkan penyakit infeksi menular seksual atau IMS. IMS merupakan penyakit atau infeksi yang umumnya ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman. Penyebaran bisa melalui darah, sperma, cairan vagina atau pun cairan tubuh lainnya. Selain itu, penyebaran tanpa hubungan seksual juga bisa terjadi dari seorang ibu kepada bayinya, baik saat mengandung atau melahirkan. Pemakaian jarum suntik secara berulang atau bergantian di antara beberapa orang juga berisiko menularkan infeksi. Melihat dari kondisi diatas, masyarakat harus tetap waspada dan jangan sering gonta ganti pasangan sehingga menyebabkan penyakit IMS. Bahkan, dari data yang tercatat di Dinkes Indramayu saat ini ada 1.500 orang yang sudah dinyatakan postif HIV. “Itu baru yang teridentifikasi setelah dialkukan tes darah. Kami berharap dengan program EMAD ini mampu menekan AKI dan AKB,” tuturnya. (dun)
1.500 Orang Terkena AIDS di Indramayu
Sabtu 18-04-2015,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 16-03-2026,13:43 WIB
BREAKING NEWS: Mayat Perempuan di Kamar Kos Cirebon Diduga Korban Pembunuhan
Senin 16-03-2026,00:20 WIB
8 Golongan Penerima Zakat Fitrah Jelang Lebaran 2026, Siapa Saja yang Berhak?
Senin 16-03-2026,11:08 WIB
Walikota Cirebon Disomasi, Bidang Hukum Partai Golkar Bantah Ada Perjanjian Biaya Jasa Advokat
Senin 16-03-2026,00:09 WIB
Klasemen Persib Terbaru Usai Ditahan Imbang Borneo FC 1-1
Senin 16-03-2026,02:41 WIB
Bocoran Mobil Listrik Chery Terbaru 2026: Exeed EX7 Siap Meluncur, SUV Premium Kecepatan 200 Km per Jam
Terkini
Senin 16-03-2026,21:16 WIB
Hashim Ungkap Arahan Prabowo:Tanah BUMN Tak Boleh Dijual, Diprioritaskan untuk Rumah Rakyat
Senin 16-03-2026,20:54 WIB
Viral! Siswa SD di Lombok Tengah Minta Keadilan ke Presiden Prabowo soal MBG
Senin 16-03-2026,20:17 WIB
Arus Mudik Mulai Terasa, 68 Ribu Kendaraan Melintas di Jalur Bypass Cirebon
Senin 16-03-2026,20:01 WIB
Aston Cirebon Hadirkan Halal Bihalal Buffet Lebaran, Harga Mulai Rp230 Ribu
Senin 16-03-2026,19:35 WIB