Somiyah Emon Legora;  Pernah Ditahan Jepang, Kini Aktif di Kegiatan Sosial

Selasa 26-04-2016,14:58 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan

Cerita demi cerita terus mengalir dari bibir Somiyah Emon Legora. Mulai dari perjuangan menempuh pendidikan di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, hingga sempat menjadi tahanan para tentara gerilya. Laporan: MIKE DWI SETIAWATI, Kejaksan DENGAN kebaya merah marun dan rok kecoklatan Saomiyanah Emon Legora tampak elegan. Penampilannya mengingatkan ke dandanan perempuan Cirebon di masanya. Meski sudah berusia 90 tahun, berbagai peristiwa lintas generasi masih diingatnya dengan jelas. Bahkan, setiap cerita dituturkannya dengan semangat. Perempuan yang kerap disapa Ibu Emon ini adalah satu dari sekian banyak veteran wanita yang masih ada. Ia menjadi saksi ketika Indonesia masih dijajah Belanda, dijajah Jepang, kemudian merdeka dan revolusi pasca kemardekaan. Tak sekadar jadi saksi, Eman masih aktif di berbagai kegiatan termasuk di usianya saat  ini. Cerita di masa perjuangan diawali saat Emon menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau sekarang pendidikan setingkat SD. Sekolah dasar bentukan pemerintahan Belanda di Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu. Pendidikan bentukan pemerintah kolonial, membuatnya fasih berbicara bahasa Belanda. \"Jadi waktu itu ada tiga jenis sekolah. Ada untuk kalangan bumiputera, kalangan ningrat dan Belanda, dan gabungan keduanya. Nah saya sekolah yang gabungan keduanya, jadi bisa bahasa Belanda,\" ujar Emon, mengawali perbincangan dengan Radar. Diceritakan, saat itu masa penjajahan tak begitu terasa karena Belanda sudah lama menjajah Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS, Emon melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yakni sekolah menengah pertama pada zaman kolonial Belanda yang ada di Semarang. Pada tahun 1942, pemerintah Jepang kemudian masuk ke Indonesia. Berbeda dengan kolonial Belanda, tentara Jepang sangat keji dan tidak ramah kepada perempuan. Bahkan, cerita Emon, siapapun yang tidak melakukan seikerei atau memberikan hormat dengan cara membungkukkan badan itu akan ditendang oleh tentara. \"Keluarga saya khawatir waktu itu, akhirnya baru dua tahun di MULO saya pulang ke rumah di Bangodua,\" ceritanya. Sejak kembali ke tempat tinggalnya, Emon dan perempuan-perempuan di daerah tersebut melanjutkan aktivitasnya dengan membantu membuat makanan di dapur besar untuk para pejuang. Masa-masa penjajahan tentara Jepang begitu ia rasakan. Zaman penjajahan Jepang, perempuan Indonesia seakan tidak mendapat ruang untuk mendapatkan hak-haknya. Bahkan, di usia remaja, tak sedikit dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang. \"Saya juga pernah ditahan sama tentara, nggak tau tentara dari mana itu saya lupa. Ditanya-tanya, saya diam saja, takut kalau melawan,\" tutur nenek dari delapan orang cucu itu. Masa penjajahan usai sejak Jepang menyerah pada sekutu dan akhirnya Indonesia merdeka. Emon merasakan masa revolusi hingga akhirnya ia pindah ke Cirebon dan menjadi seorang istri veteran. Sejak pindah ke Cirebon, Emon sudah aktif di berbagai kegiatan sosial. Ia aktif dalam Gabungan Organisasi Wanita (GOW). Mengisi hari tuanya, Emon mengelola Panti Asuhan Budi Asih dan panti khusus anak-anak disabilitas \"Beringin Bhakti\". \"Sekarang kalau pagi ke Gedung Juang, siangnya nengok ke Budi Asih dan lanjut ke Beringin Bhakti. Mumpung masih dikasih umur sama Allah,\" ungkapnya. (*)  

Tags :
Kategori :

Terkait