JAKARTA- Pembahasan pemerintah mengenai isu perlindungan anak di tengah ramainya kasus kekerasan seksual terus berlanjut. Salah satunya, rapat kerja antara Komisi VIII DPR dan instansi pemerintah yang diadakan kemarin. Dalam rapat itu, pemerintah pun bersikeras bahwa hukuman kebiri memang salah satu solusi terbaik untuk memberi efek jera bagi pelakuk kekerasan seksual terhadap anak-anak. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menegaskan, hukuman yang baru saja diberlakukan oleh pemerintah merupakan solusi yang tepat. Hanya saja, kabar yang menyebar di masyarakat diakui salah kaprah sehingga menghadirkan kontroversi. Menurutnya, kebiri yang dimaksud bukan mematikan fungsi alat genital pelaku. Namun, menidurkan fungsi reproduksi mereka dalam waktu yang ditentukan. “Yang kami maksud adalah kebiri kimia bagi pelaku pedofil yang korbannya bekali-kali. Sehingga, dia tidak menimbulkan korban-korban baru dalam masa rehabilitasi,” terangnya. Dalam hal ini, pihaknya juga tak hanya mengandalkan hukuman kebiri. Pemerintah juga masih menyimpan opsi menanam chip kepada pelaku sebagai pelacak dan mempublikasikan identitasnya. Juga, memberlakukan hukuman mati jika kejahatannya sudah terlalu berat. “Tentunya, yang sudah diganjar hukuman mati tidak akan dikebiri. Kami juga tidak meninggalkan proses rehabilitasi,’’ imbuhnya. Terkait tuduhan bahwa hukuman tersebut tidak efektif, Khofifah menampik. Menurutnya, hukuman tersebut sudah dijalankan di berbagai negara maju di dunia. Menurut studi Kemensos, penerapan hukum tersebut terbukti bisa menekan kasus kekerasan seksual terutama pada anak. “Di Jerman, Inggris, Korea Selatan. Semua negara itu terbukti efektif,” ujarnya. Ketua KPAI Asrorn Niam juga ikut mendukung tindakan tegas terkait hukuman. Menurutnya, solusi drastis memang dibutuhkan dengan kasus kekerasan seksual yang terus meningkat. Pada 2015 saja, terdapat 574 laporan kasus di kepolisian. Itu meningkat 50 persen dibanding kasus 2014 sebanyak 382 laporan. Namun, dalam hal ini proses penegakan hukum pun harus berhati-hati. Menurutnya, aparat tak boleh menyamaratakan proses hukum terhadap semua pelaku. Sebab perlakuan kejahatan anak-anak dengan orang dewasa kerap disamakan. “Kalau anak sebagai pelaku mestinya berbeda penangannya dengan pelaku dewasa. Pendekatan anak harus dalam konteks pemulihan. Bukan ditempatkan di lembaga pemasyarakatan,’’ jelasnya. Ketua Komisi VIII Ali Taher, dalam kesimpulan rapat, mendorong instansi pemerintah untuk bersinergi dalam hal penanganan masalah anak. Menurutnya, baik kebijakan dan implementasinya harus mencakup aspek pencegahan, penanganan dan rehabilitasi. “Kami meminta agar kerja sama program dan kegiatan yang diarahkan untuk membangun ketahanan keluarga bisa ditingkatkan. Sebab, keluarga adalah sarana untuk mencegah timbulnya permasalahan terhadap anak,’’ jelasnya. (bil)
Hukuman Kebiri Jalan Terus
Selasa 31-05-2016,13:34 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 29-10-2026,17:26 WIB
3 Pemuda Cirebon Meninggal Dunia, Diduga setelah Pesta Miras Oplosan
Kamis 29-10-2026,11:45 WIB
Kepala Desa Paniis Kuningan Terancam 20 Tahun Penjara, Kerugian Negara Rp530 Juta
Kamis 29-10-2026,11:20 WIB
2 Skenario Persib Lolos 16 Besar ACL 2, Kemenangan atas Melbourne Victory Jadi Modal
Kamis 29-10-2026,13:52 WIB
Ada Bek hingga Striker, Ini 4 Pemain Keturunan yang Bisa Jadi Amunisi Baru Timnas Indonesia
Kamis 29-10-2026,16:28 WIB
Intip Kecanggihan Vivo V80, Andalkan Kamera Portrait ZEISS dan Lensa Telefoto 50 MP
Terkini
Jumat 30-10-2026,10:31 WIB
244 Kebakaran Terjadi di Majalengka, Hanya Dua dari Enam Mobil Damkar Siap Beroperasi
Jumat 30-10-2026,10:06 WIB
Viral Pakai Almamater Undira di Deklarasi Sumpah Pemuda, Bayu Akui Dibayar dan Bukan Mahasiswa
Jumat 30-10-2026,09:25 WIB
HUT ke-76 Polairud, Nyaris 300 Personel Dikerahkan Bersihkan Pantai Kesenden Cirebon
Jumat 30-10-2026,09:18 WIB
Free Fire Jadi Andalan! ESI Kabupaten Cirebon Incar Sejarah di Porprov Jabar
Jumat 30-10-2026,09:12 WIB