JAKARTA - Jelang lebaran pemantauan kestabilan harga pangan kian ditingkatkan. Satgas Pangan memprediksi seminggu jelang lebaran menjadi waktu paling kritis untuk memainkan harga pangan. Dua minggu lalu, kenaikan harga pangan berupa bawang putih di Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu atensi. Kepala Satgas Pangan Polri sekaligus Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan bahwa masa paling kritis permainan harga pangan pada H-7 lebaran ini pengawasan akan diperketat. “Pemantauan tidak boleh lengah,” ujarnya. H-7 menjadi waktu paling kritis karena daya beli masyarakat meningkat. Peningkatan daya beli itu dikarenakan ada penerimaan tunjangan hari raya (THR). “Ini waktu yang cocok kalau menurut spekulan yang ingin memainkan harga,” ungkap mantan Wakabaintelkam tersebut. Maka dari itu, Polri bersama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyisiri satu per satu pasar. Setidaknya ada 145 pasar yang menjadi patokan atau benchmark harga pangan dipantau. “Diawasi betul, kalau stok kurang langsung ditambah,” paparnya. Targetnya, saat perayaan lebaran tidak terjadi kenaikan harga yang drastis. Sehingga, masyarakat bisa tenang karena semua harga wajar. “Nah, lebaran ini yang utama,” tuturnya. Daerah manakah yang paling rawan kenaikan harga? Dia mengatakan bahwa semua daerah cukup rawan. Namun, sekitar dua minggu lalu kenaikan harga bawang putih yang begitu drastis terjadi di Nusa Tenggara Timur. “Harga tembus Rp100 ribu,” paparnya. Saat petugas Polri yang tergabung dalam Satgas Pangan mencari akar masalahnya. Ternyata diketahui stok bawang putih di NTT habis. “Kondisi itu saya laporkan ke Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian,” jelasnya. Setelah itu, langsung dikirim stok bawang putih menggunakan pesawat terbang ke NTT. Setelah stok sampai, akhirnya harga bawang putih turun. “Harga normal kembali menjadi Rp40 ribu,” ujarnya. Bagaimana bila seminggu ke depan terjadi kenaikan harga? Dia menyatakan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah melihat suplai atau stok. Kalau stok kurang, tentu bersama kementerian akan ditambal kekurangan tersebut. “Tapi, kalau berdasar analisa terjadi kenaikan karena permainan, seperti penimbunan dan sebagainya. Maka, Polri tidak segan untuk melakukan proses hukum. Siapapun yang terlibat ditindak,” papar jenderal berbintang dua tersebut. (idr)
Satgas Pangan Pantau Potensi Permainan Harga
Senin 19-06-2017,16:00 WIB
Reporter : Dedi Haryadi
Editor : Dedi Haryadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 29-10-2026,17:26 WIB
3 Pemuda Cirebon Meninggal Dunia, Diduga setelah Pesta Miras Oplosan
Kamis 29-10-2026,16:28 WIB
Intip Kecanggihan Vivo V80, Andalkan Kamera Portrait ZEISS dan Lensa Telefoto 50 MP
Kamis 29-10-2026,14:32 WIB
Persib Bawa Poin Penting untuk Ranking Indonesia di AFC, Sedikit Lagi bisa Lampaui Singapura dan Vietnam
Kamis 29-10-2026,17:59 WIB
Masa Depan Pers Dipertaruhkan, Royalti Jurnalistik Terancam Habis untuk Biaya LMK?
Kamis 29-10-2026,15:30 WIB
47 SPPG Sudah Kantongi SLHS, Dinkes Cirebon Tekankan Pemeriksaan Makanan MBG di Sekolah
Terkini
Jumat 30-10-2026,14:03 WIB
Absen di FIFA ASEAN Cup 2026, Sosok Ini Justru Dapat Sorotan Khusus AFC Jelang Piala Asia 2026
Jumat 30-10-2026,14:00 WIB
Bikin Nagih! Rahasia Ayam Goreng Bawang Putih Renyah di Luar dan Lembut di Dalam
Jumat 30-10-2026,13:49 WIB
Polemik Mbappe versus Tiongkok, Gianni: FIFA Tak Mau Hukum Pemain Hanya karena Kontroversial di Medsos
Jumat 30-10-2026,13:00 WIB
7 Tips Merawat Tumit Kaki Pecah-pecah agar Kembali Halus, Bisa Dilakukan di Rumah
Jumat 30-10-2026,12:22 WIB