ASSEN - Dua kemenangan beruntun Ducati di Mugello dan Barcelona sama sekali tak diprediksi siapapun, termasuk tim pabrikan Italia itu sendiri. Tidak ada target lain bagi Honda dan Yamaha akhir pekan ini kecuali menghentikan tren hebat Andrea Dovizioso di atas Desmosedici GP17. Usai kemenangan back-to-back tersebut, Dovizioso mengungkapkan rahasia di balik kisah suksesnya. Semuanya bermula dari pertengahan tahun lalu dimana terjadi perubahan mindset pada dirinya dalam menghadapi setiap lomba. \'\'Aku percaya telah memahami banyak hal dalam hidup. Dan itu membantuku menghadapi semuanya. Yaitu memandang hidup dan balapan dengan cara berbeda,\'\' ungkapnya dilansir Motorsport. Dovizioso memenangi balapan pertamanya di kelas MotoGP di Sepang, Malaysia tahun lalu. Kemenangan tersebut diraihnya setelah rider 31 tahun tersebut melewatu 158 balapan di kelas premium. Hasil maksimal di Mugello dan Barcelona dalam dua pekan beruntun itu adalah kemenangan pertamanya di balapan kering di kelas premium. Juga kemenangan beruntunnya sejak turun di grand prix kelas 125 cc pada 2002 silam. Mentalitas baru tersebut pernah dirasakan juara bertahan Marc Marquez saat menghadapi musim baru tahun lalu. Dia mengaku mendengarkan masukan dari banyak orang dan mempraktikannya di setiap balapan. Marquez menjadi lebih tenang, tidak berambisi memenangi semua balapan, sabar, dan lebih dewasa ketika menghadapi duel di atas trek. Ternyata, apa yang dialami Dovi mirip dengan Marquez. \'\'Aku bertemu beberapa orang dan mereka menjelaskan kepadamu tentang banyak hal agar kau memandang sesuatu dengan cara yang berbeda. Memang itu adalah hal-hal kecil, tapi dampaknya sangat besar,\'\' paparnya. Dia kemudian mengingatkan perubahan besar yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu hingga saat ini. Bahkan tidak ada yang memprediksi bahwa Dovi kini hanya berselisih tujuh poin dari pimpinan klasemen pembalap MotoGP Maverick Vinales (Movistar Yamaha). \'\'Aku sangat senang bisa lebih santai, mengetahui apa yang sebenarnya ada di balik hal-hal kecil dan berusaha memanfaatkannya untuk mendapatkan hasil maksimal,\'\' terusnya. Di Mugello dan Barcelona, tampak jelas pola yang sama terjadi. Ducati punya potensi menang, tapi di awal lomba selalu Jorge Lorenzo dulu menggebrak, dan bahkan memimpin balapan. Namun setelah 5-6 lap, posisinya selalu tercecer ke belakang. Sementara Dovi dengan telaten memanfaatkan waktu yang ada, menjaga durasi ban lalu mengapitalisasi power mesin Ducati di trek lurus untuk secara bertahap merangsek ke depan. Begitu ada peluang untuk memimpin lomba, dia langsung melarikan diri. Meski begitu, Dovi tak merasa posisinya saat ini adalah penantang kuat dalam perebutan gelar juara dunia. Menurutnya, masih ada yang lemah dari Ducati jika dibandingkan dengan para kompetitor. Yakni kurangnya akselerasi di tengah tikungan. Mantan rider Repsol Honda itu juga mengaku tak sepenuhnya paham dengan kondisi balapan saat ini. Terutama kaitannya dengan perilaku ban Michelin. \'\'Aku tidak tahu mengapa. Kadang ban bekerja sangat baik, di lain waktu begitu buruk. Kadang (ban) sangat cocok untuk kami, terkadang bagus untuk pabrikan lainnya. Ini sangat aneh, tapi cara untuk menghadapi semua itu bisa membuatku berbeda,\'\' ujarnya. Perubahan Dovi juga dirasakan Bos Ducati MotoGP Gigi Dall\'Igna. Dia berpendapat bahwa pembalapnya itu menjadi seorang yang perfeksionis. \'\'Dia menyelesaikan dua lap terakhir (Barcelona dan Mugello) dengan cara yang sesuai dengan text book. Aku rasa dia memiliki semua karakteristik yang dibutuhkan untuk bersaing merebut gelar juara dunia,\'\' tambahnya dilansir GP One. Tapi darimana Ducati mendapatkan konsistensinya saat ini? Dall\'Igna mengatakan, Ducati selalu memiliki mesin dengan performa tinggi, power besar, dan cepat. Itu filosofi Ducati. Faktor tersebut tak dianggap sebagai kelemahan, tapi sebaliknya adalah keunggulan bagi Ducati. \'\'Dan untuk musim ini, memiliki motor dengan power mesin besar lebih menguntungkan,\'\' tandasnya. Kabar baiknya bagi adalah di atas kertas, Barcelona dan Jerez adalah trek yang tidak cocok dengan Ducati. Tapi di Barcelona Dovi juara sedangkan di Jerez Lorenzo merengkuh podium pertamanya bersama Ducati. \'\'Terakhir Ducati menang di Barcelona adalah musim 2003 bersama Loris Capirossi. Jadi target berikut kami adalah Assen, GP Belanda,\'\' pungkasnya. (cak)
Andrea Dovizioso, Mental Baru dengan Motor Kencang
Selasa 20-06-2017,12:40 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 03-09-2026,20:57 WIB
7 Tanaman Hias Minimalis Outdoor untuk Hunian Sempit, Cocok Pakai Pot Kecil dan Gantung
Jumat 04-09-2026,04:53 WIB
Tecno Pova 8 Pro Rilis di Indonesia September Ini, Baterai Jumbo 6500 mAh, Kolaborasi dengan Lamborghini
Kamis 03-09-2026,18:00 WIB
Jadwal Persib Bandung Bulan September 2026 Super Padat! 3 Laga Away Beruntun Bikin Manajemen Khawatir
Kamis 03-09-2026,20:53 WIB
6 Tanaman Hias Minimalis Outdoor yang Cocok Ditanam di Rumah Kecil dan Tidak Makan Ruang, Cocok untuk Pemula
Jumat 04-09-2026,05:29 WIB
SUV Mungil Bukan Kaleng-Kaleng, Suzuki Jimny 2021 Bekas Punya 4WD, 102 PS dan Ground Clearance 210 mm
Terkini
Jumat 04-09-2026,17:00 WIB
Pagi Hari Lapar? Ini 4 Tempat Sarapan Enak dan Viral di Cirebon yang Wajib Dicoba
Jumat 04-09-2026,16:33 WIB
Viral CCTV di Majalengka, Penjual Somay Curi Pakaian Dalam Wanita
Jumat 04-09-2026,16:31 WIB
Bakar Sampah Sembarangan Picu Kebakaran Warung di Kandanghaur, Kerugian Capai Rp24 Juta
Jumat 04-09-2026,16:21 WIB
Video Kekerasan Pelajar Viral, 3 Terduga Pelaku Dibekuk Polisi Cirebon
Jumat 04-09-2026,16:00 WIB