Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan bahwa Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini untuk tsunami. Selain itu, sejumlah letusan dan longsoran Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan tsunami di Selat Sunda juga terabaikan karena dipandang sebagai kejadian biasa. “Yang terjadi di Selat Sunda, tidak ada peringatannya karena kami tidak memiliki sistem. Tidak ada yang mengira erupsi Gunung Anak krakatau yang berlangsung pada malam itu menyebabkan longsoran bawah laut dan memicu tsunami,” ujar Sutopo dalam konferensi pers, Selasa (25/12/2018) siang di Jakarta. “Kalau kami lihat, letusannya juga tidak paling besar. Bulan Oktober dan November 2018 letusannya lebih besar. Dan dari segi frekuensi, tremor, dan sebagainya, tidak ada yang mencurigakan,” lanjutnya. Sutopo menyampaikan bahwa ini menjadi evaluasi dan pelajaran untuk ke depannya. Terlebih, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Sutopo juga menambahkan, 13 persen dari populasi gunung api aktif di dunia yang ada di Indonesia juga memiliki potensi menimbulkan tsunami. “Nah, inilah tantangan bagi kami ke depan untuk mengembangkan sistem peringatan dini yang dibangkitkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunung api,” kata Sutopo. Sutopo menjelaskan bahwa catatan tsunami yang pernah terjadi di Indonesia, 90 persen dibangkitkan oleh gempa bumi, sedangkan 10 persen dibangkitkan oleh longsor bawah laut dan erupsi gunung api. “Mengenai aktivitas gunung Anak Krakatau masih terjadi erupsi, dan status yang ditetapkan PVMBG, Gunung Anak Krakatau tetap menjadi [waspada] level 2,” tegas Sutopo. Erupsi Gunung Anak Krakatau telah terjadi sejak Juni 2018. Sutopo menjelaskan, tipe dari gunung itu melontarkan lava pijar dan abu vulkanik terus-menerus. “Tipenya seperti itu dan radius 2 km dari puncak kawah dinyatakan sebagai zona berbahaya. Tidak boleh ada aktivitas,” tandasnya. Gelombang tsunami di Selat Sunda diduga dipicu dari longsornya bagian Gunung Anak Krakatau pada Sabtu malam (22/12/2018). Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan, perkiraan luasan longsoran bagian tubuh Gunung Anak Krakatau itu berdasarkan pantauan citra satelit. “Dari pantauan citra satelit terjadi deformasi [perubahan bentuk tubuh] Gunung Anak Krakatau yang menunjukkan luas 64 hektare, terutama pada lereng barat daya,\" papar Dwikorita di Jakarta, Senin (24/12/2018) seperti dikutip dari Antara. (*)
BNPB: Indonesia Memiliki 127 Gunung Api Aktif dan Belum Punya Sistem Peringatan Dini untuk Tsunami
Selasa 25-12-2018,18:10 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 23-03-2026,07:22 WIB
Waspada! Ini 5 Penyakit yang Sering Muncul Setelah Lebaran, Jangan Dianggap Sepele
Senin 23-03-2026,04:20 WIB
Veda Ega Cetak Sejarah! Raih Podium Moto3 Brasil 2026, Indonesia Bangga
Senin 23-03-2026,05:26 WIB
9 Manafaat Jus Lidah Buaya untuk Kesehatan, dari Kulit Glowing hingga Detoks Alami
Senin 23-03-2026,04:11 WIB
Hasil MotoGP Brasil 2026: Bezzecchi Juara, Aprilia Cetak Sejarah 4 Kemenangan Beruntun
Senin 23-03-2026,04:30 WIB
Veda Ega Ukir Sejarah! Begini Pernyataan Usai Podium Moto3 Brasil 2026
Terkini
Senin 23-03-2026,22:01 WIB
Lebaran Penuh Berkah, Viking Dompyong Cirebon Bagikan Santunan dan Doorprize
Senin 23-03-2026,21:01 WIB
WFA ASN Lebaran 2026 Berlaku! Simak Jadwal dan Ketentuan Lengkapnya
Senin 23-03-2026,20:34 WIB
Kapolres Cirebon Kota Pantau Arus Balik, Lalu Lintas Pantura dan Tol Palikanci Ramai Lancar
Senin 23-03-2026,20:00 WIB
One Way Tol Cipali Arah Jakarta Resmi Berlaku Tadi Sore, 38 Ribu Kendaraan Melintas
Senin 23-03-2026,19:44 WIB