Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan selama proses penyelidikan sebelum operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan Rabu (10/7/2019) lalu, pihaknya mencermati sejumlah penggunaan kata sandi yang diduga merupakan cara mengelebaui dan menutupi transaksi suap yang dilakukan.
\"Tim mendengar penggunaan kata \'ikan\' sebelum rencana dilakukan penyerahan uang. Disebut jenis Ikan Tohok dan rencana \'penukaran ikan\' dalam komunikasi tersebut. Selain itu terkadang digunakan kata \'Daun\',\" kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (12/7/2019).
Tak hanya itu, kata Febri, saat tim penindakan KPK menggelar OTT awal di pelabuhan, pihak yang diamankan saat itu sempat berdalih tidak ada uang yang diterima, tetapi kepiting.
\"KPK telah berulang kali memecahkan sandi-sandi seperti ini. Dan hal ini juga sangat terbantu dengan Informasi yang kami terima dari masyarakat,\" katanya.
Untuk itu, KPK mengapresiasi informasi dari masyarakat soal OTT di Kepri, Rabu (10/7) kemarin. KPK berharap, masyarakat proaktif melaporkan dugaan tindak pidana korupsi.
\"Pelaporan dugaan korupsi dapat dilakukan ke KPK secara langsung atau dapat menghubungi Call Center KPK di 198,\" katanya.
Diketahui, KPK menetapkan Nurdin dan dua anak buahnya Kadis Kelautan dan Perikanan, Edy Sofyan dan Kabid Perikanan Tangkap, Budi Hartono serta seorang swasta bernama Abu Bakar sebagai tersangka kasus dugaan suap izin prinsip dan lokasi proyek reklamasi di Kepri tahun 2018-2019. Nurdin dan kedua anak buahnya diduga menerima suap setidaknya Sin$ 11 ribu dan Rp 45 juta dari Abu Bakar.
Suap ini diberikan untuk memuluskan izin pemanfaatan laut untuk melakukan reklamasi di Tanjung Piayu, Batam yang diajukan Abu Bakar ke Pemprov Batam. Abu Bakar berencana membangun resort dan kawasan wisata seluas 10,2 hektar. Padahal, Tanjung Playu merupakan area yang memiliki diperuntukkan sebagai kawasan budidaya dan hutan llindun.
Meski demikian, Nurdin Basirun dan kedua anak buahnya seakan tak peduli dengan status Tanjung Piayu sebagai kawasan budidaya dan hutan lindung. Bahkan, Nurdin memerintahkan anak buahnya, Budi Hartono dan Edy Sofyan membantu Abu Bakar meloloskan izin yang diajukan terkait pemanfaatan laut guna melakukan reklamasi.
Namun, karena pemanfaatan lahan tersebut tidak sesuai, maka izin kepentingan reklamasi diubah untuk mengakomodasi kepentingan Abu Bakar tersebut. Nurdin Basirun melalui Budi Hartono memberitahu Abu Bakar agar dalam izinnya harus menyebutkan akan membangun restoran dengan keramba sebagai budidaya ikan di bagian bawahnya. Upaya ini dilakukan agar seolah-olah terlihat seperti fasilitas budidaya.
Tak hanya menerima suap, Nurdin Basirun diduga menerima gratifikasi dari pihak lain. Saat OTT, tim Satgas KPK menyita Sin$ 43.942, US$ 5.303, EURO 5, RM 407, Riyal 500, dan Rp 132.610.000. Uang itu disita dari Rumah Dinas Gubernur Kepulauan Riau. (*)
Kasus OTT Nurdin Basirun: Transaksi Suap Gunakan Sandi Rahasia
Jumat 12-07-2019,21:07 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 24-03-2026,15:45 WIB
Puncak Arus Balik 2026: Kuningan-Cirebon Macet, Waktu Tempuh 3 Jam
Selasa 24-03-2026,10:01 WIB
One Way Arus Balik Lebaran di Tol Cipali Ramai Lancar, 36 Ribu Kendaraan Menuju Jakarta
Selasa 24-03-2026,15:32 WIB
Update Data Korban Meninggal dan Kronologi Kecelakaan Maut di Cingambul Majalengka
Selasa 24-03-2026,09:20 WIB
Maarten Paes dan 2 Lainnya OTW Jakarta dan Update Ranking FIFA Indonesia Salip Malaysia
Selasa 24-03-2026,12:49 WIB
Kecelakaan di Cirebon Hari Ini: Truk Hantam Pagar Kampus IPB
Terkini
Rabu 25-03-2026,09:12 WIB
Wisata Plangon Tetap Ramai saat Libur Lebaran, Gratis dan Jadi Favorit Keluarga
Rabu 25-03-2026,08:03 WIB
Rizky Ridho Sambut Elkan Baggott, Lini Belakang Timnas Jelang FIFA Series 2026 Makin Kuat
Rabu 25-03-2026,07:01 WIB
9 Tahun Berseragam Liverpool, Mohamed Salah Umumkan Cabut dari Anfield Akhir Musim 2026
Rabu 25-03-2026,06:02 WIB
Calon Jemaah Tak Perlu Khawatir, Haji 2026 Tetap Berangkat April, Begini Penjelasan Lengkap Pemerintah
Rabu 25-03-2026,05:03 WIB