Prof Ali Zum Mashar dan Cita-cita Swasembada Kedelai dari Indramayu, Berpotensi Ubah Peta Pasar Global
Prof Ali Zum Mashar (kiri) berdiskusi dengan CEO Radar Cirebon Group, Yanto S Utomo (kedua kiri) tentang swasembada kedelai di Indramayu.-Yuda Sanjaya-Radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Indonesia sampai dengan saat ini masih mengandalkan impor untuk mendapatkan bahan baku kedelai.
Tapi, langkah swasembada yang dicanangkan di Kabupaten Indramayu, akan mengubah peta pasar global.
DI bantaran Irigasi Sungai Cimanuk yang membelah Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, kami menjumpai Prof Dr Ali Zum Mashar.
Peneliti cum petani yang idealis dalam urusan mengembangkan pertanian, termasuk kedelai non GMO.
BACA JUGA:Taufik Hidayat Ditahan di Sel Khusus Polda Jabar, Diawasi CCTV 24 Jam
BACA JUGA:IPLM dan Tingkat Gemar Membaca di Majalengka Turun, Ini Penyebabnya
Penemu Mikroba Google tersebut, sedang menantikan panen perdana yang diharapkan terjadi pada Agustus 2026.
Selanjutnya pasca panen tersebut akan dilakukan pembibitan yang akan menjadi tonggak untuk swasembada kedelai.
"Target kita, 2027 sudah swasembada kedelai," kata Prof Ali Zum Mashar di kediaman Penasehat Koperasi Bareng Bareng Sugih (BBS), Mulyadi.
Sembari menyantap gombyang kepala ikan manyung, Ali mengungkapkan, swasembada kedelai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
BACA JUGA:Gaji Guru Sulit Naik, Prabowo Ungkap Kebocoran Anggaran Negara Rp2.500 Triliun per Tahun
BACA JUGA:Ramalan 5 Shio yang Akan Hidup Mapan di Usia 30 Tahun, Sukses Sejak Muda hingga Kaya Raya
Pengembangan kedelai non GMO di Kabupaten Indramayu bahkan sudah menarik perhatian negara sahabat seperti Tiongkok.
"Dari Tiongkok sudah datang ke sini dan mereka mau impor kalau kedelai non GMO," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

