Bibit Sudah Siap, Air Tak Kunjung Datang, Begini Perjuangan Petani Indramayu untuk Bertahan
Kekeringan di Indramayu memaksa petani Lobener Lor membangun saluran air secara swadaya demi menyelamatkan musim tanam dan mencegah gagal panen.-Anang Syahroni-Radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM – Ancaman kekeringan di Indramayu kembali dirasakan para petani saat memasuki musim tanam gadu (MT II).
Namun kondisi tersebut tidak membuat mereka menyerah. Dengan semangat gotong royong, petani di Desa Lobener Lor, Kecamatan Jatibarang, memilih bergerak bersama membangun saluran air secara swadaya agar sawah tetap bisa ditanami.
Aksi tersebut dilakukan pada Selasa (28/7/2026) sebagai upaya mengatasi minimnya pasokan air irigasi yang selama ini menjadi kendala utama.
Saluran air baru itu dibuat hingga terhubung dengan saluran sekunder sehingga distribusi air diharapkan lebih merata, terutama menuju lahan pertanian yang berada jauh dari pintu pembagi air Pancoran Mas.
BACA JUGA:Sekda Blak-blakan! Ada BUMD Kota Cirebon yang 'Sakit', Bagaimana Masa Depannya?
Langkah swadaya ini menjadi bukti bahwa para petani tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga mencari solusi agar lahan pertanian tetap produktif meski menghadapi musim kemarau yang cukup panjang.
Salah seorang petani Desa Lobener Lor, Toto, mengatakan pembangunan saluran air dilakukan secara gotong royong bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Fokus utama mereka adalah memastikan sawah yang berada di bagian tengah hingga ujung area persawahan tetap memperoleh pasokan air.
Menurutnya, selama ini distribusi air menjadi persoalan serius karena hanya mengandalkan satu pintu pembagi.
BACA JUGA:Pelajar Indramayu Raih Perunggu FABI 2026, MTs Sekolah Alam Bangga
BACA JUGA:Comeback Roberto Mancini! Italia Siap Bangkit dan Kejar Tiket Euro 2028
Akibatnya, petani yang memiliki sawah di bagian belakang sering kali tidak kebagian air secara maksimal ketika jadwal giliran irigasi berlangsung.
"Kami bersama Gapoktan berinisiatif membuat saluran air agar sawah yang berada di Blok Sampang dan wilayah tengah bisa tetap mendapat pasokan air. Kalau hanya mengandalkan satu pintu pembagi, airnya tidak mencukupi," ujar Toto.
Ia menjelaskan, sistem giliran air sebenarnya sudah diterapkan untuk mengatur distribusi irigasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

