Nama Provinsi Tatar Sunda Ditolak di Pantura, Budayawan Cirebon hingga Ulama Indramayu Kompak Bersuara
Penolakan nama Provinsi Tatar Sunda menguat di Pantura. Budayawan Cirebon dan ulama Indramayu menilai usulan itu tak mendesak dan berpotensi memicu perpecahan.-M Fazrurochman -Radar Cirebon
RADARCIREBON.COM – Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda kembali memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Di wilayah Pantai Utara (Pantura), gelombang penolakan mulai bermunculan. Sejumlah budayawan, tokoh masyarakat hingga kalangan ulama menilai usulan tersebut belum memiliki urgensi dan justru berpotensi memunculkan persoalan sosial baru.
Penolakan itu salah satunya datang dari pegiat budaya sekaligus Pendiri Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula, Chaidir Susilaningrat.
Menurutnya, perubahan nama provinsi saat ini bukanlah kebutuhan mendesak yang harus diprioritaskan pemerintah.
BACA JUGA:Provinsi Jawa Barat Bakal Ganti Nama, Mengapa Harus Tatar Sunda, Bukan Galuh?
BACA JUGA:Jawa Barat jadi Provinsi Tatar Sunda, Bisa Contoh Papua, Saatnya Bangga dengan Nama Lokal
Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah daerah dibanding membahas pergantian identitas administratif.
"Saya tidak melihat adanya urgensi yang kuat untuk melakukan perubahan nama tersebut saat ini," ujarnya kepada Radar Cirebon, Minggu (5/7/2026).
Dikhawatirkan Memicu Friksi Sosial
Chaidir mengingatkan, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia yang memiliki karakter masyarakat sangat majemuk.
Di dalamnya hidup berbagai kelompok etnis dengan identitas budaya masing-masing.
Menurutnya, jika nama Jawa Barat diganti menjadi Provinsi Sunda atau Provinsi Tatar Sunda, ada potensi munculnya gesekan sosial di sejumlah daerah yang secara historis dan budaya tidak sepenuhnya merepresentasikan identitas Sunda.
Ia mencontohkan wilayah perbatasan seperti Losari, Kabupaten Cirebon. Mayoritas masyarakat di kawasan tersebut menggunakan bahasa Cirebon dan Jawa Pesisiran dalam kehidupan sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

