Daya Motor

Sentra Garam Terbesar Jawa Barat Terhambat Infrastruktur, Jalan 8 Kilometer Belum Pernah Diaspal

Sentra Garam Terbesar Jawa Barat Terhambat Infrastruktur, Jalan 8 Kilometer Belum Pernah Diaspal

Inilah kondisi jalan utama yang menjadi akses vital bagi ribuan petambak garam dan nelayan di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.-Mohamad Junaedi-RADARCIREBON.COM

CIREBON, RADARCIREBON.COM – Di balik besarnya kontribusi Kabupaten Cirebon terhadap produksi garam nasional, masih tersimpan persoalan infrastruktur yang hingga kini belum terselesaikan.

Jalan utama yang menjadi akses vital bagi ribuan petambak garam dan nelayan di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, masih dalam kondisi rusak parah dan belum pernah mendapatkan pembangunan permanen selama puluhan tahun.

Jalan tersebut merupakan urat nadi aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Setiap hari, jalur itu digunakan untuk mengangkut hasil panen garam, distribusi kebutuhan tambak, hingga akses nelayan menuju kawasan pesisir.

BACA JUGA:Pendapatan Pajak Jalan Tol di Cirebon Naik Tajam, Capai Rp9,7 Miliar per Tahun

Namun kondisi jalan yang dipenuhi lubang, permukaan tidak rata, dan kerap tergenang saat musim hujan membuat aktivitas masyarakat menjadi terhambat.

Ironisnya, ruas jalan yang membentang menuju kawasan tambak garam terbesar di Jawa Barat itu disebut telah ada sejak era 1970-an.

Meski memiliki peran penting dalam mendukung sektor ekonomi pesisir, hingga kini jalan tersebut belum pernah tersentuh pembangunan berupa pengaspalan maupun betonisasi.

Salah seorang petani garam asal Rawaurip, Ismail Marzuki, mengatakan jalan tersebut sudah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir jauh sebelum dirinya lahir.

Menurutnya, kondisi jalan saat ini jauh dari kata layak untuk mendukung aktivitas ekonomi yang terus berkembang.

BACA JUGA:Jalan Rusak di Kota Cirebon: Bertahun-tahun Belum Diperbaiki, DPRD Ungkap Kendala

"Jalan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1970-an. Dari dulu sampai sekarang menjadi akses utama untuk mengangkut hasil garam dan aktivitas nelayan ke laut. Tapi sampai hari ini belum pernah diaspal atau dibeton," ujarnya.

Ismail menjelaskan, satu-satunya penanganan yang pernah dilakukan hanya berupa pengerasan jalan pada sekitar tahun 2011 hingga 2012.

Saat itu, pengerasan dilakukan bersamaan dengan proyek pembangunan pagar batu kubus di sepanjang pesisir Kecamatan Pangenan yang bertujuan mengurangi dampak abrasi.

Namun menurutnya, langkah tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: reportase

Berita Terkait