Daya Motor

Tradisi Unik di Cirebon, Buyut Kayu Mati Dimandikan Setiap 19 Mulud, Airnya Diburu Warga untuk Ngalap Berkah

Tradisi Unik di Cirebon, Buyut Kayu Mati Dimandikan Setiap 19 Mulud, Airnya Diburu Warga untuk Ngalap Berkah

Pengangkatan buyut kayu mati Pangeran Mancur Jaya di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya-Dede Adhitama-

RADARCIREBON.COMTradisi Memandikan Buyut Kayu Perbatang atau yang dikenal masyarakat sebagai Buyut Kayu Mati Pangeran Mancur Jaya kembali digelar di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Tuk, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Tradisi yang telah berlangsung sejak sekitar 1965 itu digelar setiap tanggal 19 Mulud, bertepatan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Hingga kini, ritual tersebut tetap dipertahankan dan menjadi salah satu tradisi budaya masyarakat Cirebon yang sarat dengan nilai sejarah dan penghormatan terhadap leluhur.

Juru Kunci Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja mengatakan tradisi tersebut dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan melibatkan masyarakat dari berbagai daerah.

BACA JUGA:Truk Kontainer Terguling di Pantura Eretan, Arus Jakarta-Cirebon Macet 2 Kilometer

"Tradisi Muludan ini kita laksanakan setiap tahun sekali. Ini dari tahun '65 sampai sekarang. Jadi setiap tanggal 19 Mulud kita adakan acara seperti ini," ujar Raden Suparja.

Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut masih sangat tinggi.

Tidak hanya warga Desa Tuk, masyarakat dari luar daerah juga turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan.

"Semua masyarakat, baik masyarakat desa maupun dari luar, semuanya ikut berpartisipasi dalam rangka acara ini," katanya.

BACA JUGA:105 Tahun Mengabdi untuk Cirebon, RSD Gunung Jati Terus Berinovasi

Rangkaian pemandian Buyut Kayu Perbatang diawali dengan kumandang azan dan ikamah.

Setelah itu, kayu yang berada di dasar kolam diangkat oleh tujuh orang yang merupakan keturunan Pangeran Mancur Jaya.

Kayu kemudian diterima oleh lima orang untuk selanjutnya dimandikan dan dibersihkan bersama masyarakat.

"Setelah azan dan ikamah, ada beberapa orang yang semuanya keturunan Pangeran Mancur Jaya untuk langsung mengangkat dari dalam kolam. Yang mengangkat tujuh orang, kemudian diterima lima orang dan dimandikan oleh masyarakat," jelas Raden Suparja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait