Pasar Hijau Cikomboy Desa Matangaji Cirebon: Dari Potensi Alam Matangaji Menjadi Nilai Ekonomi
Pasar Hijau Cikomboy hasil KKN Rekognisi Bisnis Sirkular EDGE 2+, hasil kolaborasi Yayasan Wangsakerta, LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Pemerintah Desa Matangaji, dan masyarakat, dengan dukungan Education Development Center (EDC).-Foto: Dok-radarcirebon.com
RADARCIREBON.COM - Pasar Hijau Cikomboy digelar di Desa Matangaji, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Minggu, 27, September 2026 di objek wisata Kolam Renang Cikomboy.
Dengan tema “Dari Potensi Alam Matangaji, Menjadi Nilai Ekonomi” Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara Potensi alam desa, kreativitas masyarakat, pengetahuan mahasiswa, dan pengembangan ekonomi lokal berbasis lingkungan.
Kegiatan ini juga berlangsung dalam rangkaian Hari Tani Nasional 2026, yang diperingati setiap 24 September.
Pasar Hijau Cikomboy merupakan bagian dari KKN Rekognisi Bisnis Sirkular EDGE 2+, hasil kolaborasi Yayasan Wangsakerta, LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Pemerintah Desa Matangaji, dan masyarakat, dengan dukungan Education Development Center (EDC).
BACA JUGA:Ke SDN 1 Kedungjaya, Mendikdasmen Juga Tinjau MBG: Anak-anak Gembira
Kegiatan diawali dengan pembukaan bersama, penampilan seni, workshop Pasar Hijau, dan dilanjutkan dengan pasar hingga sore hari.
Dari Potensi Desa Menjadi Nilai Ekonomi
Kuwu Desa Matangaji, Rusnadi, mengatakan Pasar Hijau Cikomboy dibangun dari gagasan bahwa potensi desa dapat dikembangkan menjadi nilai ekonomi tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Lokasi Pasar Hijau Cikomboy di area wisata Kolam Renang Cikomboy.Foto: Kanaka Adiwarta for radarcirebon.com
“Pasar tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi ruang untuk mempertemukan potensi alam, pengetahuan warga, produk lokal, konsumen, dan peluang usaha,” ujarnya.
BACA JUGA:Mendikdasmen Tinjau Pembangunan SDN 1 Kedungjaya Cirebon, Simak Kata-Katanya
Menurut Ketua Yayasan Wangsakerta, Farida Mahri, pengembangan ekonomi desa perlu melihat keseluruhan ekosistem yang menopangnya.
“Pertanyaannya bukan hanya apa yang bisa dijual, tetapi apa yang dimiliki desa, apa yang dibutuhkan masyarakat, dan bagaimana potensi tersebut diolah menjadi nilai ekonomi dengan tetap menjaga tanah, air, bahan baku, energi, dan lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, Semangat Hari Tani mengingatkan bahwa pangan dan ekonomi desa selalu berangkat dari tanah, air, petani, dan pengetahuan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
