Darurat Literasi Reseptif: Siswa SMP Bisa Membaca, tetapi Tidak Memahami Isinya

Darurat Literasi Reseptif: Siswa SMP Bisa Membaca, tetapi Tidak Memahami Isinya

Darurat literasi reseptif membuat siswa SMP bisa membaca tetapi sulit memahami isi bacaan.-Ilustrasi AI-

DI ruang kelas SMP, saya sering menemukan pemandangan ironis. Siswa diminta membaca sebuah cerpen, mereka lancar mengeja setiap kata.

Namun ketika ditanya, “Apa pesan moral dari cerita ini?” sebagian besar diam.

Mereka bisa membaca, tetapi tidak memahami. Mereka bisa mendengar, tetapi tidak menyimak.Inilah yang disebut sebagai darurat literasi reseptif.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, keterampilan berbahasa dibagi dua: reseptif (menyimak dan membaca) dan produktif (berbicara dan menulis).

BACA JUGA:Laptop Mau Awet Bertahun-tahun? 7 Kebiasaan Sederhana Ini Jangan Diabaikan

BACA JUGA:Sering Dianggap Sepele, 7 Kebiasaan Ini Diam-diam Bikin Laptop Cepat Lemot dan Rusak

Selama ini, yang produktif lebih banyak mendapat panggung. Lomba pidato, lomba menulis, semua terlihat.

Sementara yang reseptif dianggap sudah bisa dengan sendirinya. Padahal, justru di sinilah akar masalahnya.

Menyimak bukanlah sekadar mendengar. Mendengar adalah proses fisik, sementara menyimak adalah proses aktif yang melibatkan identifikasi, interpretasi, dan evaluasi.

Hal yang sama berlaku untuk membaca. Membaca bukan sekadar mengeja huruf menjadi kata, tetapi memahami makna, konteks, dan tujuan penulis.

BACA JUGA:Dispora Kota Cirebon Kejar Target PAD Rp100 Juta dari Fasilitas Olahraga

BACA JUGA:Akses Perumahan di Pabedilan Dipasangi Portal, KAI Akhirnya Buka Suara

Problematika di lapangan sangat nyata. Pertama, dominasi tes pilihan ganda. Untuk menghemat waktu, banyak guru menilai kemampuan membaca hanya dengan 20 soal pilihan ganda.

Siswa yang jago menebak bisa mendapat nilai 90, padahal ia tidak mampu merangkum isi bacaan dalam satu paragraf.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: